Netralitas Guru dalam Pusaran Opini: Menjaga Oase Moral di Sekolah
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Peran guru
sebagai teladan moral kini menghadapi tantangan profesional paling berat di
tengah tekanan opini politik global yang sering kali merembes ke lingkungan
sekolah dasar di wilayah Jawa Timur melalui gawai siswa. Guru dituntut untuk
tetap menjaga netralitas dan objektivitas yang ketat saat menjelaskan fenomena
dunia kepada siswa, guna menghindari penularan bias partisan yang dapat
memperdalam polarisasi di ruang kelas. Di banyak daerah, sekolah kini mulai
menyelenggarakan lokakarya kepemimpinan moral bagi pendidik agar mereka mampu
menjadi penengah yang adil di tengah beragamnya latar belakang pandangan
politik keluarga siswa yang sering kali dibawa ke dalam percakapan informal di
sekolah.
Profesionalisme guru
dalam pendidikan moral menjadi kunci utama agar sekolah tetap menjadi ruang
publik yang aman dan inklusif bagi semua anak tanpa terkecuali, terlepas dari
identitas politik orang tua mereka. Guru harus mampu memisahkan antara keyakinan
pribadi dengan tugas suci mendidik siswa untuk berpikir kritis serta inklusif
terhadap setiap bentuk keberagaman yang ada. Fakta di lapangan menunjukkan
bahwa guru yang mampu menampilkan sikap moderat cenderung lebih berhasil
membangun rasa saling percaya di antara siswa yang memiliki pandangan berbeda.
Pendidikan moral di sekolah harus menjadi oase yang bersih dari kepentingan
partisan, sehingga anak-anak dapat tumbuh dalam lingkungan yang objektif dan
menjunjung tinggi martabat kemanusiaan di atas segala kepentingan kelompok.
Keteguhan guru dalam
menjaga netralitas bukan berarti bersikap apatis terhadap kebenaran atau
keadilan, melainkan konsisten pada nilai-nilai etika universal yang melampaui
kepentingan sempit suatu golongan. Sekolah dasar memiliki tanggung jawab besar
untuk tidak menjadi alat indoktrinasi politik, melainkan menjadi laboratorium
karakter yang mandiri dan memiliki integritas akademik yang tinggi. Dengan
sosok guru yang berintegritas dan objektif, siswa akan belajar tentang arti
kepemimpinan yang adil serta pentingnya mendengar semua pihak sebelum mengambil
keputusan. Pendidikan moral yang kuat di sekolah dasar adalah garansi bahwa
demokrasi masa depan akan dijalankan oleh individu-individu yang memiliki
kematangan emosional dan stabilitas moral yang mumpuni.
Tantangan muncul ketika
isu-isu global yang kontroversial menjadi bahan pertanyaan kritis dari siswa di
tengah pelajaran, menuntut jawaban yang jujur namun tetap edukatif. Guru
dilatih untuk menggunakan pendekatan "diskusi terstruktur" di mana siswa
diajak untuk melihat berbagai perspektif dari sebuah konflik tanpa diarahkan
untuk membenci salah satu pihak. Metode ini sangat efektif dalam membangun
nalar logis anak, sehingga mereka tidak mudah terjerumus dalam narasi kebencian
yang sering kali muncul dalam bentuk video pendek di internet. Guru bertindak
sebagai penyaring informasi yang membantu siswa memilah mana fakta yang
objektif dan mana opini yang bermuatan kebencian atau propaganda politik.
Dukungan dari manajemen
sekolah dan dinas pendidikan juga sangat krusial dalam melindungi guru dari
tekanan eksternal yang mungkin mencoba mengintervensi independensi pengajaran
di kelas. Diperlukan kode etik pengajaran moral yang jelas sehingga guru memiliki
panduan hukum dan etika yang kuat saat menghadapi situasi sensitif di
lingkungan pendidikan. Pelindungan terhadap oase moral di sekolah ini adalah
investasi penting untuk memastikan bahwa institusi pendidikan tetap menjadi
tempat penyemaian nilai-nilai luhur bangsa. Jika guru kehilangan netralitasnya,
maka sekolah akan berubah menjadi medan tempur ideologi yang sangat berbahaya
bagi kesehatan mental dan perkembangan jiwa siswa sekolah dasar.
Sinergi antara
keteladanan guru dan kebijakan sekolah yang inklusif akan menciptakan budaya
organisasi yang menghargai perbedaan sebagai sebuah kekayaan, bukan sebagai
ancaman yang harus dimusnahkan. Guru yang mampu menunjukkan empati kepada semua
siswa tanpa melihat latar belakang politik keluarganya sedang memberikan
pelajaran moral paling nyata tentang kemanusiaan. Karakter yang terbentuk dari
pengamatan terhadap perilaku guru yang adil akan melekat jauh lebih kuat dalam
ingatan siswa daripada sekadar menghafal teori tentang etika dalam buku teks.
Keteladanan adalah metode pendidikan moral terbaik yang tidak bisa digantikan
oleh teknologi secanggih apa pun di ruang kelas.
Sebagai penutup,
netralitas guru adalah benteng pertahanan terakhir bagi kewarasan generasi
mendatang di tengah badai polarisasi yang melanda dunia saat ini. Kita harus
memastikan bahwa sekolah tetap menjadi tempat di mana akal budi dan kasih
sayang lebih diutamakan daripada sentimen kelompok yang memecah belah. Dengan
guru yang tetap berdiri tegak di atas nilai-nilai kemanusiaan universal, kita
sedang menyiapkan pemimpin masa depan yang bijaksana dan mampu merangkul semua
golongan. Pendidikan moral yang lahir dari objektivitas guru adalah kunci untuk
menjaga persatuan nasional dan kedamaian global. Masa depan peradaban manusia
yang lebih beradab dimulai dari integritas seorang guru di dalam ruang kelas
sekolah dasar.
###
Penulis: Nur Santika
Rokhmah