Nilai Moral vs. Nilai Rapor: Mana yang Lebih Penting untuk Masa Depan Anak?
S2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Pertanyaan tentang apa yang lebih penting, nilai moral atau nilai rapor, seringkali menjadi isu hangat di kalangan orang tua dan pendidik. Di satu sisi, nilai rapor mencerminkan prestasi akademik anak, yang dianggap penting untuk membuka pintu ke perguruan tinggi dan karier yang sukses. Di sisi lain, nilai moral mencerminkan karakter dan etika anak, yang dianggap penting untuk menjadi individu yang baik dan bertanggung jawab.
Namun, jika kita melihat lebih dalam, kita akan menyadari bahwa nilai moral dan nilai rapor sebenarnya saling terkait dan saling melengkapi. Anak yang memiliki nilai moral yang baik cenderung lebih termotivasi untuk belajar dan mencapai prestasi akademik yang tinggi. Mereka memiliki rasa tanggung jawab, disiplin, dan integritas yang membantu mereka untuk sukses dalam segala bidang kehidupan.
Sebaliknya, anak yang hanya fokus pada nilai rapor tanpa memperhatikan nilai moral mungkin akan mencapai kesuksesan akademik, tetapi mereka mungkin kehilangan kemampuan untuk berempati, bekerja sama, dan membangun hubungan yang sehat. Mereka mungkin menjadi individu yang egois, ambisius, dan tidak peduli terhadap orang lain.
Oleh karena itu, penting bagi orang tua dan pendidik untuk menyeimbangkan perhatian antara nilai moral dan nilai rapor. Kita tidak boleh menyumbangkan salah satu demi yang lain. Kita harus memastikan bahwa anak-anak kita tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga bijaksana secara emosional dan moral.
Bagaimana caranya? Pertama, kita harus memberikan contoh yang baik. Anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat dan dengar dari orang dewasa di sekitar mereka. Jika kita ingin anak-anak kita memiliki nilai moral yang baik, kita harus menunjukkan nilai-nilai tersebut dalam tindakan kita sehari-hari. Kedua, kita harus memberikan kesempatan bagi anak-anak kita untuk mengembangkan keterampilan sosial dan emosional mereka. Ini bisa dilakukan melalui kegiatan ekstrakurikuler, kegiatan sukarela, atau bahkan hanya melalui percakapan yang bermakna di rumah.
###
Penulis : Ailsa Widya Imamatuzzadah