Numerasi Lintas Kurikulum: Strategi Menghapus Sekat Antara Matematika dan Realitas
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Salah satu kelemahan sistemik yang terdeteksi melalui asesmen PISA adalah ketidakmampuan siswa Indonesia untuk menerapkan konsep matematika pada disiplin ilmu lain atau dalam situasi kehidupan yang kompleks. Hal ini terjadi karena matematika di sekolah dasar sering diajarkan sebagai "pulau terpencil" yang terpisah dari mata pelajaran lain. Strategi numerasi lintas kurikulum muncul sebagai solusi untuk menghapus sekat tersebut, menjadikan matematika sebagai alat analisis yang digunakan secara luas baik dalam pelajaran sains, sosial, bahkan seni, sehingga realitas kelas menjadi lebih holistik dan bermakna.
Dalam pembelajaran rutin yang konvensional, matematika hanya dipelajari pada jam pelajaran matematika saja. Akibatnya, siswa sering kali bingung ketika diminta menghitung skala pada peta di pelajaran geografi atau menghitung pertumbuhan tanaman di pelajaran sains. Padahal, literasi matematika sesungguhnya adalah kemampuan untuk "melihat dunia melalui lensa matematika." Jika numerasi diintegrasikan ke semua mata pelajaran, siswa akan terbiasa melakukan penalaran kuantitatif secara alami tanpa merasa sedang mengerjakan "soal matematika" yang berat.
Fakta empiris menunjukkan bahwa pengajaran matematika yang terisolasi berkontribusi pada rendahnya pemahaman konsep secara mendalam. Siswa mungkin hafal rumus rata-rata, tetapi tidak tahu bagaimana menggunakan rata-rata tersebut untuk menganalisis data curah hujan atau tingkat kemiskinan di daerahnya. Standar PISA menuntut kemampuan integrasi semacam ini. Oleh karena itu, kolaborasi antar guru kelas di SD sangat penting untuk merancang tema pembelajaran yang saling terkait, di mana matematika menjadi mesin pengolah informasinya.
Implementasi numerasi lintas kurikulum juga melatih siswa dalam "komunikasi matematis," yakni kemampuan menjelaskan fenomena non-matematika menggunakan argumen matematis. Misalnya, dalam pelajaran olahraga, siswa bisa menghitung kecepatan lari rata-rata kelas dan membuat grafiknya. Dengan cara ini, angka-angka menjadi memiliki "cerita" dan relevansi sosial. Hal ini sangat krusial untuk meningkatkan profil pelajar Pancasila yang mandiri dan bernalar kritis, selaras dengan tujuan besar pendidikan nasional kita saat ini.
Pendidik level S2 perlu mempromosikan pendekatan Interdisciplinary Learning ini sebagai standar baru di sekolah dasar. Melalui penelitian tindakan kelas, dapat dibuktikan bahwa keterkaitan antar materi meningkatkan motivasi belajar siswa secara signifikan. Matematika tidak lagi dianggap sebagai "momok" yang berdiri sendiri, melainkan sebagai kawan yang membantu memahami subjek lain. Pergeseran perspektif ini adalah kunci untuk meruntuhkan tembok ketakutan anak terhadap angka.
Tantangan utamanya adalah desain kurikulum sekolah yang sering kali masih kaku dengan pembagian jam pelajaran yang ketat. Sekolah perlu diberikan fleksibilitas untuk menciptakan hari-hari bertema atau proyek kolaborasi lintas mata pelajaran. Di tingkat global, negara-negara dengan skor PISA tinggi telah lama meninggalkan model "silo" dan beralih ke model kurikulum yang terintegrasi. Indonesia harus berani melakukan langkah serupa jika ingin mencetak generasi yang mampu melakukan sintesis informasi di tengah kompleksitas dunia modern.
Penutupnya, menghapus sekat antara matematika dan realitas adalah tugas kolektif seluruh elemen pendidikan. Numerasi bukan hanya tanggung jawab guru matematika, melainkan tanggung jawab semua pendidik. Dengan menjadikan matematika sebagai nafas dalam setiap proses belajar, kita sedang mempersiapkan siswa SD kita untuk menjadi warga dunia yang melek data dan tangguh dalam analisis. Literasi matematika yang kokoh akan menjadi fondasi bagi kemajuan bangsa di segala bidang, membawa Indonesia keluar dari bayang-bayang kegagalan skor PISA menuju masa depan yang penuh peluang.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah