Paradigma Baru Penilaian Pendidikan Menuju Model Evaluasi yang Humanis dan Inklusif
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Paradigma baru penilaian pendidikan di tahun 2026 menekankan pada pergeseran dari model evaluasi yang menghakimi menuju model yang humanis dan inklusif. Penilaian humanis memandang siswa sebagai subjek belajar yang unik dengan latar belakang, kecepatan belajar, dan potensi yang berbeda antara satu dengan lainnya. Model ini tidak lagi sekadar mencari kesalahan siswa, melainkan berupaya menemukan kekuatan yang dapat dikembangkan lebih lanjut melalui bimbingan yang tepat. Inklusivitas dalam penilaian memastikan bahwa instrumen evaluasi dapat diakses dan adil bagi siswa dengan disabilitas maupun mereka yang berasal dari wilayah terpencil. Dengan paradigma baru ini, evaluasi pendidikan nasional bertransformasi menjadi sarana pemberdayaan individu untuk mencapai aktualisasi diri yang maksimal secara optimal dan bermartabat.
Model evaluasi humanis mengintegrasikan penilaian formatif yang dilakukan secara berkelanjutan selama proses pembelajaran berlangsung di ruang kelas maupun di lingkungan sekolah. Guru menggunakan hasil penilaian untuk memberikan umpan balik yang membangun, bukan hanya memberikan skor angka yang statis dan kaku pada lembar jawaban. Hal ini menciptakan suasana belajar yang aman di mana kesalahan dipandang sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari proses penemuan ilmu pengetahuan. Siswa diajarkan untuk melakukan penilaian mandiri atau self-assessment guna menumbuhkan kemandirian dan kesadaran akan tanggung jawab terhadap perkembangan diri mereka sendiri. Paradigma ini menghargai martabat anak sebagai manusia yang sedang berproses menjadi pribadi yang lebih bijaksana di masa yang akan datang kelak.
Inklusivitas dalam penilaian menuntut adanya adaptasi instrumen bagi siswa yang memiliki hambatan linguistik atau perbedaan budaya dalam memproses informasi yang tersedia di lembar ujian. TKA 2026 dalam paradigma baru ini menyediakan berbagai pilihan moda pengerjaan, mulai dari tes tertulis, lisan, hingga portofolio karya yang merepresentasikan kompetensi nyata. Hal ini mencegah terjadinya diskriminasi terhadap siswa yang memiliki kecerdasan luar biasa namun terkendala oleh format pengujian yang konvensional dan sangat kaku. Teknologi informasi dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk menyediakan aksesibilitas yang lebih luas bagi seluruh peserta didik tanpa memandang status sosial ekonominya. Penilaian yang inklusif merupakan pengejawantahan dari nilai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dalam bidang pendidikan nasional yang kita jalankan saat ini.
Peran guru dalam paradigma baru penilaian ini bergeser menjadi seorang kurator dan pengembang instrumen evaluasi yang lebih kontekstual dan sangat kreatif di sekolah. Guru diberikan otonomi untuk menyesuaikan alat ukur capaian pembelajaran dengan kearifan lokal serta kebutuhan spesifik komunitas belajar di daerahnya masing-masing. Pelatihan berkelanjutan bagi tenaga pendidik dalam menyusun asesmen yang humanis menjadi prasyarat mutlak bagi keberhasilan transformasi sistem pendidikan nasional kita. Kerja sama antara sekolah, orang tua, dan masyarakat diperlukan untuk membangun pemahaman bersama bahwa penilaian bukan sekadar angka di atas kertas laporan. Paradigma baru ini bertujuan untuk melahirkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga memiliki empati dan rasa kemanusiaan yang mendalam.
Sebagai kesimpulan, transisi menuju paradigma baru penilaian pendidikan merupakan langkah besar bagi kemajuan peradaban bangsa Indonesia di era disrupsi global saat ini. Model evaluasi yang humanis dan inklusif akan mampu memotret potensi anak bangsa secara lebih akurat, adil, dan sangat menghargai harkat kemanusiaan. Kita harus berani meninggalkan sistem penilaian yang bersifat mereduksi potensi manusia hanya menjadi data statistik yang tidak memiliki makna psikologis dan sosiologis. Pendidikan sejati harus mampu memerdekakan jiwa dan menumbuhkan kecintaan terhadap kebenaran melalui proses evaluasi yang mendukung pertumbuhan karakter secara holistik. Mari kita dukung implementasi paradigma baru ini demi terwujudnya sistem pendidikan nasional yang lebih beradab dan berkualitas tinggi bagi seluruh generasi penerus nusantara.
###
Penulis : Kartika Natasya Kusuma Supardi.