Paradoks Digital: Nalar Kritis Siswa SD di Tengah Gempuran Algoritma dan AI
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Kehadiran kecerdasan buatan (AI) dan algoritma media sosial di tahun 2026 ini telah menciptakan paradoks besar bagi pembentukan nalar kritis siswa sekolah dasar dalam kerangka Kurikulum Merdeka. Di satu sisi, teknologi memberikan akses tanpa batas terhadap pengetahuan, namun di sisi lain, ia menawarkan kepuasan instan yang dapat melumpuhkan ketekunan dan kedalaman berpikir kritis siswa. Artikel ini mengupas bagaimana sekolah dasar harus memposisikan diri sebagai filter intelektual yang mengajarkan siswa untuk tidak menjadi "budak algoritma" melainkan menjadi pengendali teknologi yang kritis dan beretika.
Data di lapangan menunjukkan bahwa siswa SD kini lebih sering mencari jawaban tugas melalui bantuan AI generatif daripada melakukan proses observasi atau membaca secara mendalam. Jika nalar kritis dipahami sebagai kemampuan memecahkan masalah, maka ketergantungan pada AI dapat menciptakan ilusi kompetensi di mana siswa tampak pintar namun sebenarnya hampa secara proses kognitif mandiri. Kurikulum Merdeka memberikan peluang bagi guru untuk mengubah metode penilaian menjadi lebih berbasis proses dan demonstrasi langsung, guna memastikan bahwa apa yang dihasilkan oleh siswa benar-benar hasil dari pergulatan nalar mereka sendiri.
Analisis mendalam dari S2 Dikdas menyoroti pentingnya mengajarkan "literasi algoritma" sejak usia dini agar siswa memahami bahwa apa yang muncul di layar gawai mereka bukan selalu kebenaran obyektif. Siswa perlu diajak untuk mempertanyakan mengapa sebuah iklan muncul, mengapa sebuah informasi menjadi viral, dan bagaimana AI bekerja dalam menyusun kata-kata. Dengan membongkar "kotak hitam" teknologi, nalar kritis siswa dipicu untuk selalu waspada dan tidak mudah terperangkap dalam bias informasi atau manipulasi data yang kian canggih dan sulit dideteksi secara kasat mata.
Tantangan bagi guru dalam situasi ini adalah bagaimana menjaga antusiasme belajar siswa tetap tinggi di tengah dunia yang serba otomatis dan instan. Guru harus mampu menciptakan aktivitas yang tidak bisa diselesaikan oleh AI, seperti diskusi mengenai perasaan, refleksi moral atas sebuah peristiwa, atau proyek sosial yang menuntut kehadiran fisik dan empati nyata. Nalar kritis yang dipadukan dengan kecerdasan emosional adalah benteng terakhir manusia agar tetap unggul di hadapan mesin, dan sekolah dasar adalah tempat paling krusial untuk membangun benteng tersebut sejak usia emas.
Selain itu, nalar kritis juga diperlukan dalam menyikapi etika penggunaan teknologi, di mana siswa diajarkan bahwa kebenaran jauh lebih penting daripada sekadar kecepatan mendapatkan jawaban. Kita harus menanamkan nilai-nilai integritas akademik bahwa menggunakan teknologi sebagai alat bantu adalah hal baik, namun membiarkan teknologi berpikir menggantikan nalar kita adalah bentuk pengkhianatan terhadap potensi kemanusiaan. Kurikulum Merdeka harus mampu mendesain kurikulum digital yang bukan hanya soal penguasaan perangkat lunak, melainkan soal penguasaan pola pikir kritis dalam menghadapi disrupsi teknologi yang tanpa henti.
Manajemen sekolah dan pemerintah juga perlu berpikir kritis dalam melakukan pengadaan teknologi di sekolah, agar tidak sekadar mengikuti tren pasar tanpa pertimbangan pedagogis yang matang. Setiap gawai yang masuk ke ruang kelas harus memiliki tujuan yang jelas untuk meningkatkan daya nalar, bukan justru menjadi sumber distraksi baru yang memperpendek rentang perhatian (attention span) siswa. Kebijakan digital di sekolah harus didasarkan pada riset-riset kualitatif yang menunjukkan bahwa teknologi tersebut benar-benar membantu siswa menjadi pemikir yang lebih kritis, mandiri, dan bertanggung jawab terhadap masa depan mereka sendiri.
Sebagai penutup, paradoks digital dalam Kurikulum Merdeka adalah ujian keberanian bagi kita untuk tetap memanusiakan pendidikan di tengah tekanan otomatisasi. Nalar kritis adalah senjata utama agar generasi masa depan tidak lumat oleh kecerdasan buatan, melainkan mampu menggunakannya untuk kemaslahatan kemanusiaan yang lebih luas. Mari kita ajak siswa kita untuk kembali mencintai proses belajar yang lambat, mendalam, dan penuh dengan tanda tanya, karena di sanalah nalar kritis yang sejati bersemi. Hanya dengan nalar yang kritis, kita akan tetap menjadi tuan atas teknologi yang kita ciptakan sendiri.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah