Paradoks Kejujuran: Menghadapi Tantangan Etika AI dalam Tugas STEM Siswa SD
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Ketika AI
dapat menulis laporan praktikum sains dalam hitungan detik, di manakah letak
orisinalitas pemikiran seorang siswa SD? Isu integritas akademik menjadi
tantangan etika paling krusial dalam integrasi AI pada pembelajaran STEM di
tingkat sekolah dasar sepanjang tahun 2025. Guru-guru kini dihadapkan pada
dilema antara memanfaatkan efisiensi AI dalam mengolah data eksperimen atau
menjaga kejujuran proses belajar siswa yang mulai terancam oleh kemudahan
"jalan pintas" digital. Tantangan ini menuntut redefinisi terhadap
cara kita mengevaluasi keberhasilan belajar anak di era otomatisasi kognitif.
Secara
teoretis, integritas dalam STEM bukan sekadar soal benar atau salahnya jawaban,
melainkan soal kejujuran dalam observasi dan pengolahan data. Penggunaan AI
untuk menghasilkan laporan praktikum tanpa proses eksperimen nyata merupakan
bentuk "halusinasi akademik" yang dapat merusak pola pikir saintifik
anak sejak dini. Data menunjukkan bahwa tanpa panduan etika yang jelas, 40
persen siswa cenderung menggunakan AI untuk menghindari proses berpikir sulit
dalam tugas matematika dan sains. Inilah mengapa penguatan etika digital harus
menjadi kurikulum pendamping yang wajib ada sebelum teknologi AI dilepas secara
bebas di dalam ruang kelas sekolah dasar.
Analisis
perilaku menunjukkan bahwa tantangan etika ini sebenarnya berakar pada sistem
penilaian yang sering kali terlalu menekankan pada hasil akhir daripada proses.
Strategi mitigasi yang relevan adalah dengan menerapkan asesmen autentik, di
mana guru melakukan observasi langsung selama proses eksperimen di kelas. Siswa
diperbolehkan menggunakan AI untuk memvisualisasikan data, namun mereka wajib
menjelaskan secara lisan logika di balik visualisasi tersebut. Sekolah dasar
harus menjadi tempat di mana karakter kejujuran dibangun melalui penghargaan
atas usaha keras dan kegagalan dalam eksperimen, bukan sekadar melalui lembar
jawaban yang sempurna namun tak berjiwa.
Selain
masalah plagiarisme, tantangan etika juga mencakup transparansi algoritma yang
digunakan dalam perangkat lunak STEM SD. Banyak aplikasi AI yang bersifat
"kotak hitam" (black box), di mana siswa mendapatkan jawaban
tanpa memahami proses logikanya. Guru S2 Pendidikan Dasar menekankan pentingnya
menggunakan platform AI yang bersifat terbuka (explainable AI), yang
memungkinkan siswa melihat langkah-langkah penalaran mesin. Hal ini krusial
untuk mencegah siswa menjadi pengguna teknologi yang pasif dan buta logika.
Mengajarkan anak untuk meragukan dan memverifikasi output AI adalah bagian dari
literasi STEM tingkat tinggi yang sangat diperlukan di masa sekarang.
Lebih
lanjut, tanggung jawab etika ini juga melibatkan peran orang tua di rumah dalam
memantau penggunaan gawai untuk tugas sekolah. Sekolah perlu mengadakan
lokakarya mengenai "Etika AI untuk Keluarga" agar terdapat
sinkronisasi nilai antara apa yang diajarkan di kelas dan praktik di rumah.
Dialog terbuka mengenai kapan AI boleh digunakan (misalnya untuk riset awal)
dan kapan AI tidak boleh digunakan (misalnya untuk menyelesaikan perhitungan
dasar) akan membangun disiplin diri pada anak. Integritas adalah nilai yang
harus dirawat secara kolektif oleh ekosistem pendidikan guna melindungi
kemurnian proses tumbuh kembang intelektual siswa.
Sebagai
penutup, tantangan etika AI dalam STEM adalah ujian bagi komitmen kita dalam
menjaga martabat pendidikan dasar. Kita harus menyadari bahwa teknologi hebat
tanpa pondasi moral yang kuat hanya akan melahirkan kekosongan intelektual yang
berbahaya bagi masa depan bangsa. Mari kita bimbing siswa SD untuk menggunakan
AI secara bertanggung jawab, demi melahirkan generasi emas yang tidak hanya
cerdas secara digital, tetapi juga mulia dalam karakter dan jujur dalam
bertindak. Kejujuran intelektual adalah mahkota sejati bagi setiap saintis dan
inovator masa depan, dan itu harus ditanamkan sejak lembar pertama buku sekolah
mereka.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah