Paradoks Nilai Sempurna Tanpa Landasan Empati pada Siswa Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Fenomena pencapaian nilai akademik yang menyentuh angka sempurna kini sering kali menjadi paradoks yang menyedihkan dalam lanskap pendidikan dasar di Indonesia. Di balik deretan angka sepuluh yang menghiasi buku laporan hasil belajar, sering kali tersimpan kekosongan nilai-nilai empati dan kepekaan sosial pada diri siswa. Pendidikan yang hanya mengejar target kognitif tingkat tinggi cenderung melupakan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang memerlukan kemampuan untuk merasakan penderitaan sesamanya. Hal ini menciptakan jurang pemisah antara kecerdasan intelektual yang mumpuni dengan kematangan karakter yang seharusnya tumbuh beriringan secara harmonis. Kita harus menyadari bahwa nilai sempurna di atas kertas tidak memiliki makna transformatif jika perilaku siswa justru menunjukkan sikap egois dan abai terhadap lingkungan sekitar.
Ketidakseimbangan antara aspek kognitif dan afektif dalam proses pembelajaran di sekolah dasar dapat berdampak pada terbentuknya pribadi yang sangat individualistik. Siswa yang terlalu fokus pada kompetisi nilai sering kali menganggap teman sejawat sebagai rival yang harus dikalahkan daripada sebagai rekan kolaborasi yang perlu didukung. Paradoks ini semakin nyata ketika siswa yang secara akademik sangat cerdas justru terlibat dalam tindakan perundungan karena merasa lebih unggul daripada orang lain. Kecerdasan yang tidak dibimbing oleh empati hanya akan menghasilkan individu yang manipulatif dan tidak memiliki integritas moral dalam bertindak. Oleh karena itu, institusi pendidikan wajib mengevaluasi kembali filosofi penilaian mereka agar mencakup indikator-indikator kebaikan hati dan kepedulian sosial secara eksplisit.
Secara psikologis, tekanan untuk mempertahankan nilai sempurna dapat menggerus kesehatan mental anak dan mematikan dorongan alami mereka untuk bersikap welas asih. Anak-anak yang hidup dalam ekspektasi akademik yang kaku cenderung kehilangan waktu untuk berinteraksi secara emosional dan mendalam dengan komunitas di lingkungannya. Mereka menjadi mesin penghafal teori yang mahir namun gagap saat harus memberikan bantuan moral kepada teman yang sedang mengalami kesulitan emosional. Pendidikan empati harus hadir sebagai penyeimbang agar kecerdasan yang dimiliki siswa dapat tersalurkan untuk tujuan-tujuan kemanusiaan yang lebih mulia dan bermanfaat. Guru memegang peranan kunci untuk senantiasa mengingatkan bahwa nilai rapor yang baik haruslah selaras dengan perilaku nyata yang memberikan dampak positif bagi orang lain.
Solusi atas paradoks ini memerlukan keberanian dari para pemangku kebijakan untuk merancang sistem penghargaan yang lebih humanis dan berorientasi pada proses karakter. Penghargaan di sekolah tidak boleh hanya diberikan kepada juara kelas secara akademik, tetapi juga kepada siswa yang menunjukkan teladan dalam sikap kepemimpinan dan empati. Kurikulum harus memberikan ruang bagi aktivitas sosial yang melatih siswa untuk bersentuhan langsung dengan realitas kemanusiaan di luar tembok ruang kelas mereka. Dengan cara ini, siswa akan memahami bahwa kesuksesan sejati adalah saat mereka mampu menggunakan kecerdasan mereka untuk meringankan beban orang lain. Keseimbangan ini akan membentuk pondasi yang kokoh bagi lahirnya generasi emas yang tidak hanya kompeten secara teknis tetapi juga luhur secara budi pekerti.
Sebagai kesimpulan, mari kita akhiri pemujaan terhadap nilai sempurna yang hampa akan nilai-nilai kemanusiaan dalam sistem pendidikan nasional kita saat ini. Kita membutuhkan generasi yang mampu berempati dengan tulus karena hanya itulah yang akan menjaga kohesi sosial bangsa di tengah guncangan zaman. Kecerdasan intelektual harus selalu diletakkan di bawah payung etika agar ilmu pengetahuan tidak menjadi alat yang merugikan tatanan kehidupan masyarakat luas. Mari kita didik anak-anak kita untuk mengejar keberhasilan yang holistik, di mana kepintaran otak bersatu padu dengan kemuliaan hati nurani yang bersih. Nilai rapor yang sesungguhnya adalah ketika seorang anak mampu menjadi cahaya kebaikan bagi lingkungan di manapun ia berada nantinya.
###
Penulis : Kartika Natasya Kusuma Supardi.