Parenting Remote Control: Ketika Grup WhatsApp Mengambil Alih Kemandirian Siswa SD
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Fenomena
"Parenting Remote Control" kini tengah menjadi sorotan tajam di dunia
pendidikan dasar seiring dengan meningkatnya intensitas komunikasi orang tua di
grup WhatsApp yang sering kali melampaui batas koordinasi administratif hingga
mengintervensi detail harian siswa di sekolah. Di berbagai sekolah dasar, grup
pesan singkat ini bukan lagi sekadar sarana berbagi informasi dari guru,
melainkan telah bertransformasi menjadi alat kendali jarak jauh bagi orang tua
untuk terus memantau, mengingatkan, bahkan mendikte aktivitas anak mereka dari
balik layar ponsel. Praktik ini memicu kekhawatiran serius di kalangan pendidik
mengenai hilangnya ruang bagi anak untuk belajar mandiri, memecahkan masalah
kecil, dan merasakan konsekuensi dari kelalaian mereka sendiri dalam proses
belajar yang alami.
Data psikologi
perkembangan menunjukkan bahwa kemandirian fungsional pada anak usia 7 hingga
12 tahun seharusnya dibangun melalui pengalaman mencoba dan gagal, termasuk
dalam hal-hal sederhana seperti mengingat jadwal pelajaran atau membawa
perlengkapan olahraga. Namun, melalui grup WhatsApp, orang tua sering kali
menjadi "asisten pribadi" yang membereskan segala hambatan sebelum
anak merasakannya, sehingga anak tidak pernah belajar mengelola tanggung
jawabnya sendiri. Analisis para ahli menyebutkan bahwa intervensi berlebihan
ini dapat menghambat perkembangan executive function di otak anak, yakni
kemampuan untuk merencanakan, fokus, dan mengingat instruksi secara mandiri
tanpa bantuan pihak luar secara terus-menerus.
Kondisi ini menciptakan
dilema bagi para guru, di mana mereka sering kali merasa "diawasi"
oleh puluhan mata orang tua secara real-time melalui laporan-laporan
instan yang muncul di grup tersebut. Guru tidak lagi memiliki otoritas penuh
untuk melatih disiplin siswa karena setiap teguran atau masalah kecil di kelas
sering kali langsung dibahas, diperdebatkan, atau diselesaikan oleh orang tua
di dunia maya sebelum sekolah sempat menanganinya secara edukatif. Tekanan
sosial di dalam grup tersebut juga memaksa orang tua lain untuk ikut bersikap
protektif agar tidak dianggap abai, sehingga tercipta budaya kompetisi pola
asuh yang justru merugikan kesehatan mental anak dan orang tua itu sendiri.
Dampak jangka panjang
dari "Parenting Remote Control" adalah lahirnya generasi yang sangat
bergantung pada instruksi luar dan memiliki ketahanan mental yang rendah saat
menghadapi situasi yang tidak terduga. Anak-anak yang terbiasa "dikendalikan"
dari jauh cenderung kehilangan inisiatif dan merasa cemas jika tidak
mendapatkan panduan instan dari orang tua mereka, bahkan untuk tugas-tugas
sekolah yang seharusnya bisa mereka selesaikan sendiri. Pendidikan dasar
seharusnya menjadi tempat di mana anak belajar menavigasi dunianya, namun grup
WhatsApp yang terlalu aktif justru menyempitkan dunia tersebut menjadi sekadar
perpanjangan tangan dari kecemasan orang tua yang tidak terkelola dengan baik.
Memutus rantai intervensi
berlebihan di grup WhatsApp orang tua adalah langkah krusial untuk
mengembalikan marwah pendidikan sebagai proses pemandirian manusia. Sekolah
perlu menetapkan protokol komunikasi yang jelas, di mana grup tersebut hanya
digunakan untuk informasi darurat atau pengumuman resmi, bukan untuk diskusi
teknis yang seharusnya menjadi tanggung jawab siswa. Dengan memberikan
kepercayaan penuh kepada anak dan sekolah, orang tua sebenarnya sedang
memberikan hadiah terbesar bagi masa depan anak mereka: yakni kemampuan untuk
berdiri tegak di atas kaki sendiri tanpa perlu terus-menerus dikendalikan oleh
"remote control" dari balik layar gawai.
###
Penulis: Nur Santika
Rokhmah