Pembelajaran Diferensiasi dalam Konteks Keragaman Siswa SD
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Keragaman karakteristik siswa merupakan realitas di sekolah dasar. Setiap anak memiliki gaya belajar, kemampuan, dan latar belakang yang berbeda. Kondisi ini menuntut pendekatan pembelajaran yang fleksibel. Pembelajaran diferensiasi hadir sebagai respons terhadap keragaman tersebut. Guru perlu memahami kebutuhan individual siswa.
Secara teoritis, pembelajaran diferensiasi berakar pada prinsip keadilan dalam pendidikan. Keadilan tidak berarti perlakuan yang sama, melainkan sesuai kebutuhan. Teori perkembangan anak mendukung pendekatan ini. Anak berkembang dengan kecepatan yang berbeda. Pembelajaran harus menyesuaikan dengan tahap perkembangan siswa.
Dalam praktik pembelajaran SD, diferensiasi dapat dilakukan melalui variasi aktivitas dan media. Materi yang sama dapat disajikan dengan cara berbeda. Siswa diberikan pilihan sesuai minat dan kemampuannya. Guru memantau perkembangan siswa secara berkelanjutan. Penilaian juga disesuaikan dengan proses belajar.
Pendekatan ini menuntut kompetensi pedagogis guru yang tinggi. Guru perlu melakukan perencanaan yang matang. Observasi terhadap siswa menjadi kunci utama. Lingkungan kelas harus mendukung perbedaan. Pembelajaran menjadi lebih inklusif dan humanis.
Dengan demikian, pembelajaran diferensiasi memperkuat kualitas pendidikan dasar. Sekolah menjadi ruang yang menghargai keragaman. Siswa merasa dihargai dan didukung. Pendidikan dasar yang inklusif berkontribusi pada keadilan sosial.
Penulis: Aida Meilina