Pembelajaran IPAS dan Pengembangan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa SD
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Keterampilan berpikir kritis menjadi salah satu kompetensi penting dalam pendidikan modern. Pendidikan dasar memiliki peran awal dalam menanamkan keterampilan tersebut. Pembelajaran IPAS menjadi konteks yang relevan untuk pengembangan berpikir kritis. Siswa diajak memahami fenomena alam secara rasional. Proses ini perlu dirancang secara sistematis.
Berpikir kritis tidak muncul secara instan dalam diri siswa. Guru perlu menciptakan situasi belajar yang menantang pemikiran siswa. Pertanyaan terbuka menjadi salah satu strategi pembelajaran. Diskusi membantu siswa mengemukakan pendapat secara logis. Proses ini melatih kemampuan bernalar.
Dalam pembelajaran IPAS, siswa diajak menganalisis sebab dan akibat suatu fenomena. Guru mengarahkan siswa untuk tidak hanya menerima informasi. Siswa dilatih membandingkan dan menyimpulkan informasi. Pembelajaran menjadi proses aktif dan reflektif. Keterampilan berpikir kritis berkembang secara bertahap.
Struktur pembelajaran yang runtut mendukung pengembangan berpikir kritis. Guru menyusun pembelajaran dari sederhana menuju kompleks. Setiap tahap pembelajaran saling berkaitan. Siswa tidak merasa terputus dalam proses belajar. Pemahaman berkembang secara berkelanjutan.
Pengembangan berpikir kritis berdampak pada kualitas belajar siswa. Pendidikan dasar menjadi fondasi pembentukan kemampuan ini. Guru memiliki peran sentral dalam proses tersebut. Pembelajaran IPAS menjadi sarana strategis. Berpikir kritis mendukung pembelajaran sepanjang hayat.
Penulis: Aida Meilina