Pembelajaran Kontekstual sebagai Praktik Sosial di Sekolah Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Pembelajaran kontekstual merupakan pendekatan yang memandang belajar sebagai proses sosial. Di sekolah dasar, pembelajaran tidak dapat dilepaskan dari konteks kehidupan siswa. Anak-anak membawa pengalaman, nilai, dan budaya ke dalam ruang kelas. Oleh karena itu, pembelajaran perlu mengakomodasi realitas sosial tersebut. Konteks sosial menjadi sumber belajar yang kaya dan bermakna.
Secara teoritis, pembelajaran kontekstual berakar pada teori sosiokultural Vygotsky. Pengetahuan dibangun melalui interaksi sosial dan bahasa. Zona perkembangan proksimal menjadi landasan penting dalam memahami proses belajar anak. Guru berperan sebagai mediator yang membantu siswa mencapai pemahaman yang lebih tinggi. Interaksi antar siswa juga menjadi bagian penting dari pembelajaran.
Dalam praktik pembelajaran SD, pendekatan kontekstual dapat diterapkan melalui studi kasus sederhana. Materi IPS, misalnya, dapat dikaitkan dengan kehidupan masyarakat sekitar sekolah. Siswa diajak mengamati lingkungan, berdiskusi, dan menarik kesimpulan. Pembelajaran menjadi lebih hidup dan relevan. Anak merasa apa yang dipelajarinya memiliki makna dalam kehidupan nyata.
Pendekatan ini juga mendukung pengembangan keterampilan sosial siswa. Melalui diskusi dan kerja kelompok, siswa belajar berkomunikasi dan bekerja sama. Nilai-nilai seperti toleransi dan empati dapat ditanamkan sejak dini. Pembelajaran tidak hanya berorientasi pada kognitif, tetapi juga afektif dan sosial. Hal ini sangat penting dalam pendidikan dasar.
Dengan demikian, pembelajaran kontekstual memperkuat posisi sekolah dasar sebagai ruang praktik sosial. Guru perlu peka terhadap dinamika sosial siswa. Materi ke-SD-an harus dirancang agar dekat dengan kehidupan anak. Pendidikan dasar yang kontekstual akan melahirkan siswa yang mampu memahami dan berkontribusi pada masyarakatnya.
Penulis: Aida Meilina