Pembelajaran Kooperatif untuk Memahami Fenomena Cuaca di Sekolah Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Pembelajaran kooperatif merupakan pendekatan yang menempatkan siswa sebagai subjek aktif dalam proses belajar. Dalam pembelajaran IPAS materi cuaca, pendekatan ini sangat relevan karena mendorong interaksi dan kerja sama antarsiswa. Siswa belajar tidak hanya dari guru, tetapi juga dari teman sebaya mereka. Melalui diskusi kelompok, siswa dapat saling bertukar pengalaman tentang kondisi cuaca yang mereka alami. Hal ini membuat pembelajaran terasa lebih hidup dan bermakna.
Materi cuaca memberikan banyak peluang untuk diterapkan dalam pembelajaran kooperatif. Guru dapat membagi siswa ke dalam kelompok kecil untuk mengamati cuaca harian selama beberapa hari. Setiap kelompok bertugas mencatat kondisi cuaca dan dampaknya terhadap aktivitas sehari-hari. Hasil pengamatan kemudian didiskusikan bersama di kelas. Proses ini melatih keterampilan komunikasi dan kerja sama siswa.
Pemanfaatan YouTube dalam pembelajaran kooperatif dapat menjadi stimulus awal pembelajaran. Guru dapat menayangkan video singkat tentang perubahan cuaca ekstrem atau siklus air. Setelah menonton, siswa diminta berdiskusi dalam kelompok untuk menjawab pertanyaan pemantik dari guru. Diskusi ini membantu siswa mengolah informasi secara kolektif. Dengan demikian, teknologi digunakan sebagai alat pendukung, bukan tujuan utama.
Selain itu, Canva dapat digunakan sebagai media kolaborasi siswa. Setiap kelompok dapat membuat presentasi atau poster digital tentang hasil diskusi mereka terkait cuaca. Aktivitas ini melatih siswa bekerja sama dalam menyusun ide dan menyepakati hasil akhir. Siswa juga belajar menyampaikan gagasan secara visual dan sistematis. Pembelajaran kooperatif pun terintegrasi dengan literasi digital.
Melalui pembelajaran kooperatif, siswa belajar nilai-nilai sosial sejak dini. Mereka belajar menghargai pendapat orang lain dan bertanggung jawab terhadap tugas kelompok. Pembelajaran IPAS tidak hanya mengembangkan aspek kognitif, tetapi juga afektif dan sosial. Hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan dasar yang holistik. Dengan demikian, pembelajaran cuaca menjadi sarana pembentukan karakter siswa.
Penulis: Aida Meilina