Pendidikan Berbasis Algoritma: Mengapa AI Tidak Boleh Menjadi Pengasuh Intelektual Tunggal
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Integrasi teknologi di sekolah
dasar memang tidak terelakkan, namun membiarkan AI menjadi "tutor
bayangan" tunggal bagi siswa tanpa kendali manusia adalah langkah yang
berisiko bagi masa depan peradaban kita. Banyak orang tua saat ini memberikan
akses AI secara bebas kepada anak-anak mereka dengan dalih membantu pengerjaan
tugas berat, namun tanpa sadar mereka sebenarnya sedang menyerahkan peran
pengasuh intelektual kepada barisan kode biner yang tidak memiliki nilai moral.
Isu ini menjadi sorotan utama dalam berbagai seminar pendidikan tinggi karena
dampaknya yang menyentuh akar saraf perkembangan otak anak yang masih sangat
plastis dan mudah dibentuk oleh lingkungan digitalnya.
Fakta neurosains
menyebutkan bahwa proses menulis tangan dan merangkai kalimat secara mandiri
mengaktifkan area otak yang jauh lebih luas dibandingkan sekadar melakukan
aktivitas copy-paste atau memberikan perintah (prompt) pada AI.
Keberadaan AI sebagai tutor bayangan memang mampu meningkatkan efisiensi
belajar dalam jangka pendek, namun efisiensi bukanlah tujuan utama dari
pendidikan dasar; pendalaman konsep dan pemahaman emosional tetap menjadi
prioritas utama. Tanpa adanya hambatan atau tantangan nyata dalam proses
belajar, sinapsis di otak anak tidak akan terbentuk secara optimal, yang
nantinya akan menghambat keterampilan berpikir kritis tingkat tinggi (higher-order
thinking skills) di masa remaja.
Pendidikan yang
sepenuhnya bergantung pada algoritma cenderung menghilangkan dimensi
"kebingungan yang produktif" yang sangat penting bagi kemandirian
siswa dalam mencari solusi. AI selalu memberikan jawaban yang "halus"
dan instan, sehingga anak-anak kehilangan kesempatan untuk bergumul dengan
ketidakpastian dan rasa frustrasi saat mencoba memahami sebuah konsep yang
rumit. Jika pola ini terus dibiarkan, kita sedang mencetak generasi yang sangat
tergantung pada asisten digital untuk menyelesaikan masalah hidup yang paling
sederhana sekalipun. Mesin tidak boleh dibiarkan menjadi otoritas tunggal yang
menentukan benar atau salahnya sebuah pemikiran tanpa adanya dialog kritis dari
guru sebagai pendamping nyata.
Peran orang tua di rumah
menjadi sangat vital untuk berfungsi sebagai filter atau moderator antara anak
dengan teknologi AI, guna memastikan bahwa alat tersebut digunakan untuk
memperjelas konsep yang gelap, bukan untuk menerangi jalan pintas menuju nilai
sempurna. AI seharusnya diposisikan sebagai "kamus super" yang sangat
pintar untuk memperluas wawasan, bukan sebagai "penulis hantu" yang
mengerjakan seluruh kewajiban akademik siswa dari awal hingga akhir. Jika
keseimbangan ini gagal dijaga oleh orang tua, kita akan menghadapi krisis
kreativitas yang nyata di masa depan karena generasi muda kehilangan kemampuan
untuk melakukan kontemplasi manusiawi yang mendalam.
Kekhawatiran lain muncul
dari sisi standarisasi pemikiran yang dihasilkan oleh AI, di mana mesin
cenderung memberikan jawaban yang paling umum atau rata-rata berdasarkan data
yang ada. Anak-anak yang terbiasa menggunakan AI sebagai tutor tunggal akan kehilangan
keunikan gaya bahasa dan perspektif personal mereka karena perlahan-lahan mulai
meniru pola tutur mesin yang steril. Inilah yang kita sebut sebagai ancaman
terhadap keberagaman intelektual, di mana semua siswa mulai berpikir dan
menulis dengan gaya yang seragam karena bersumber dari "otak digital"
yang sama.
Secara sosial, interaksi
dengan AI yang bersifat satu arah juga mengancam perkembangan kecerdasan
interpersonal siswa sekolah dasar yang masih sangat membutuhkan stimulasi
sosial. Anak yang terlalu nyaman mengadu pada "tutor bayangan"
digitalnya mungkin akan menarik diri dari diskusi kelompok atau interaksi
langsung dengan teman sebaya yang sering kali lebih menantang secara emosional.
Pendidikan adalah proses sosialisasi, dan AI, meski sepintar apa pun, tetap
tidak bisa mengajarkan bagaimana rasanya bekerja sama, berempati, atau
menghadapi perbedaan pendapat yang manusiawi di dalam kelas.
Sebagai penutup, AI harus
dipandang sebagai suplemen, bukan sebagai pengganti nutrisi intelektual utama
yang diberikan oleh manusia. "Tutor bayangan" ini harus tetap berada
di bawah kendali pedagogis guru dan pengawasan moral orang tua agar fungsinya
tetap memberdayakan, bukan malah mematikan potensi alami siswa. Mari kita
bekali anak-anak kita dengan kebijaksanaan untuk menggunakan teknologi sebagai
alat bantu, tanpa menyerahkan kedaulatan pikiran mereka kepada algoritma yang
tidak memiliki jiwa dan nurani.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah