Pendidikan Dasar Hadapi Cuaca Ekstrem: Strategi Pembelajaran Baru demi Keamanan dan SDGs 2030
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya—Fenomena cuaca ekstrem seperti hujan deras tiba-tiba, angin kencang, hingga gelombang panas kini menjadi ancaman nyata bagi kegiatan sekolah dasar di seluruh Indonesia. Kondisi ini mendorong banyak sekolah menerapkan strategi pembelajaran baru yang lebih responsif terhadap cuaca besok. Guru dituntut melakukan evaluasi harian terhadap situasi cuaca sebelum menyusun rencana kegiatan belajar mengajar. Pendekatan ini menjadi bagian penting dari upaya mencapai SDGs 3 dan 13 yang menekankan kesehatan dan ketangguhan terhadap perubahan iklim. Sekolah menyadari bahwa keselamatan siswa menjadi prioritas utama dalam menghadapi kondisi alam yang semakin sulit diprediksi. Dengan demikian, cuaca tidak lagi dianggap sebagai informasi tambahan, tetapi faktor strategis dalam perencanaan pendidikan.
Dalam rangka menyiapkan siswa menghadapi cuaca ekstrem, guru mengintegrasikan materi mitigasi bencana ke dalam pembelajaran harian. Siswa belajar mengenali tanda-tanda hujan lebat, angin kencang, atau potensi banjir ringan di sekitar lingkungan sekolah. Mereka juga dilatih melakukan evakuasi secara aman apabila terjadi perubahan cuaca yang membahayakan. Guru menekankan bahwa pemahaman cuaca bukan hanya pengetahuan ilmiah, tetapi keterampilan hidup yang penting untuk keselamatan mereka. Pembelajaran ini sekaligus mengajarkan nilai tanggung jawab individu dan solidaritas sosial dalam menghadapi bencana. Inilah bentuk pendidikan karakter yang relevan dengan tantangan zaman.
Untuk memperkaya pemahaman siswa, guru memanfaatkan berbagai alat bantu visual seperti radar cuaca, peta hujan, dan rekaman video bencana hidrometeorologi. Siswa diajak menganalisis bagaimana pola awan dapat berubah dengan cepat dan menyebabkan hujan lokal. Melalui aktivitas ini, mereka belajar tentang hubungan antara dinamika atmosfer dan fenomena alam yang terjadi di sekitar mereka. Guru juga menekankan pentingnya membaca informasi dari sumber resmi seperti BMKG agar siswa tidak terjebak hoaks cuaca yang sering menyebar di media sosial. Dengan penguatan literasi informasi ini, siswa menjadi lebih bijak dalam menghadapi perkembangan teknologi digital. Semua ini membuat pembelajaran cuaca menjadi lebih holistik dan bermakna.
Namun, tidak semua sekolah dapat menerapkan strategi pembelajaran ini secara optimal. Beberapa sekolah di wilayah pedesaan belum memiliki akses internet yang memadai untuk memantau cuaca secara real time. Guru juga sering kekurangan pelatihan dalam membaca data meteorologi sehingga mereka merasa ragu mengajarkannya kepada siswa. Tantangan lain muncul dari minimnya perangkat visual seperti proyektor atau layar besar yang dapat menampilkan peta satelit. Situasi ini menimbulkan kesenjangan dalam kualitas pendidikan iklim antarwilayah yang perlu segera ditangani pemerintah. Penguatan fasilitas sekolah menjadi kunci keberhasilan implementasi pembelajaran cuaca ekstrem di seluruh Indonesia.
Meski menghadapi banyak kendala, strategi pembelajaran ini memberikan dampak besar terhadap kesadaran lingkungan dan keamanan siswa. Anak-anak menjadi lebih berhati-hati terhadap perubahan cuaca mendadak dan memahami pentingnya menjaga keselamatan diri. Guru juga merasa lebih siap menghadapi situasi darurat karena memiliki pedoman yang jelas. Dengan mengintegrasikan cuaca ekstrem ke dalam pembelajaran harian, sekolah dasar secara tidak langsung membantu memperkuat ketahanan masyarakat. Pendekatan ini juga mendukung upaya pencapaian SDGs terkait perubahan iklim, keselamatan, dan pendidikan berkualitas. Jika diperluas, strategi ini dapat menjadi standar baru pendidikan nasional dalam menghadapi ancaman iklim global.
###
Penulis: Putri Arina Hidayati