Pendidikan Karakter: Pondasi Moral di Tengah Krisis Nilai
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Di tengah derasnya arus
informasi dan kemajuan teknologi, banyak hal berubah dengan sangat
cepat—termasuk cara kita melihat nilai dan moral. Anak-anak tumbuh di dunia
yang serba instan, di mana prestasi sering kali diukur dari angka, bukan dari
sikap. Padahal, pendidikan sejati tidak hanya soal pintar berhitung atau
menguasai teori, tapi juga soal bagaimana seseorang bersikap jujur, bertanggung
jawab, dan punya empati terhadap sesama. Inilah alasan mengapa pendidikan
karakter menjadi sangat penting: ia menjadi pondasi moral di tengah zaman yang
mudah goyah.
Pendidikan karakter bukanlah mata pelajaran yang bisa
dihafal atau diujikan, melainkan proses panjang yang dibangun lewat keteladanan
dan kebiasaan. Guru, orang tua, dan lingkungan memiliki peran besar dalam
menanamkan nilai-nilai seperti kejujuran, kerja keras, dan rasa hormat. Anak
yang tumbuh dengan karakter kuat akan lebih siap menghadapi tantangan hidup,
bukan hanya karena pintar secara akademis, tetapi karena ia tahu cara bersikap
benar di situasi apa pun. Dalam hal ini, pendidikan karakter bukan pelengkap,
melainkan inti dari pendidikan itu sendiri.
Sayangnya, di tengah tekanan sosial dan budaya populer yang
sering menonjolkan keberhasilan instan, nilai-nilai moral sering terpinggirkan.
Maka, tugas kita bersama adalah menghidupkan kembali semangat pendidikan
karakter di rumah, di sekolah, dan di masyarakat. Karena sehebat apapun
seseorang dalam hal pengetahuan, tanpa karakter yang baik, semua itu tak akan
bertahan lama. Karakter adalah akar—dan dari akar yang kuat, akan tumbuh
generasi yang tangguh, berintegritas, dan membawa perubahan yang berarti bagi
bangsa.
###
Penulis: Sabila Widyawati
Dokumentasi: Pinterest