Pendidikan Moral dan Tantangan Membentuk Empati di Era Polarisasi
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya -
Empati menjadi nilai yang semakin langka di tengah
polarisasi sosial dan politik global. Perbedaan pandangan sering memicu
penarikan diri emosional. Individu lebih mudah menghakimi daripada memahami.
Dalam kondisi ini, pendidikan moral memiliki tantangan besar. Ia berupaya
menumbuhkan empati di tengah arus polarisasi. Empati bukan berarti menyetujui
semua pandangan. Empati adalah kemampuan memahami pengalaman orang lain. Tanpa
empati, polarisasi akan terus memperlebar jurang sosial.
Polarisasi sering memperkuat narasi kita dan mereka.
Narasi ini menyederhanakan realitas sosial. Pendidikan moral berupaya memecah
dikotomi tersebut. Dengan memahami latar belakang pengalaman, empati dapat
tumbuh. Pemahaman ini mengurangi kecenderungan menggeneralisasi.
Pendidikan moral juga melatih kepekaan terhadap
penderitaan orang lain. Polarisasi sering membuat penderitaan dipolitisasi.
Pendidikan moral menolak eksploitasi penderitaan demi kepentingan ideologis.
Kepekaan ini menjaga agar empati tidak kehilangan ketulusan. Tanpa ketulusan,
empati berubah menjadi strategi manipulatif.
Selain itu, pendidikan moral menumbuhkan kemampuan
mendengarkan secara etis. Mendengarkan menjadi keterampilan yang terabaikan di
era debat tanpa akhir. Pendidikan moral menekankan pentingnya mendengar tanpa
prasangka. Melalui mendengarkan, empati menemukan ruang untuk tumbuh.
Empati juga berkaitan dengan pengakuan terhadap
kerentanan bersama. Polarisasi sering menonjolkan perbedaan kekuatan dan
kelemahan. Pendidikan moral mengingatkan bahwa setiap manusia memiliki
kerentanan. Kesadaran ini menumbuhkan solidaritas lintas perbedaan.
Pendidikan moral mendorong praktik empati dalam
tindakan nyata. Empati tidak berhenti pada perasaan, tetapi diwujudkan dalam
sikap. Sikap ini mencerminkan kepedulian yang konsisten. Konsistensi inilah
yang membedakan empati sejati dari simpati sesaat.
Pada akhirnya, pendidikan moral menghadapi tantangan
besar dalam membentuk empati di era polarisasi. Namun, tanpa empati, kehidupan
sosial kehilangan makna kemanusiaan. Pendidikan moral memastikan bahwa empati
tetap menjadi nilai hidup yang relevan.
###
Penulis: Resinta Aini Zakiyah