Pendidikan yang Diwariskan ke Anak Muda: Antara Harapan dan Realitas di Akhir Januari
S2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Harapan terhadap pendidikan yang akan diwariskan kepada anak muda sangatlah besar. Masyarakat berharap generasi depan akan memiliki kapasitas berpikir yang lebih tinggi, mampu menghadapi tantangan global, serta memiliki integritas dan rasa tanggung jawab yang kuat terhadap masyarakat dan negara. Pemerintah juga telah menetapkan sasaran-sasaran pembangunan pendidikan yang ambisius, termasuk meningkatkan indeks pembangunan manusia melalui akses pendidikan yang merata dan berkualitas.
Realitas yang ada di lapangan menunjukkan bahwa kita masih memiliki jarak yang cukup jauh untuk mencapai harapan tersebut. Di beberapa daerah di Indonesia, terutama di wilayah terpencil, anak-anak masih kesulitan untuk mendapatkan akses pendidikan dasar yang layak. Permasalahan seperti kurangnya guru berkualitas, sarana pembelajaran yang terbatas, dan kondisi ekonomi keluarga yang tidak memadai menjadi hambatan utama dalam mewujudkan pendidikan yang merata. Bahkan di kota besar seperti Surabaya, meskipun fasilitasnya lebih memadai, masih terdapat tantangan dalam hal kesejahteraan guru dan relevansi materi pembelajaran dengan kebutuhan industri lokal.
Perbedaan antara harapan dan kenyataan juga terlihat dalam hal keterampilan yang dimiliki oleh lulusan pendidikan. Banyak perusahaan yang mengeluh bahwa lulusan baru seringkali belum memiliki keterampilan praktis yang dibutuhkan di dunia kerja. Padahal, harapan masyarakat adalah bahwa pendidikan akan mampu menghasilkan tenaga kerja yang siap bersaing dan berkontribusi pada pembangunan ekonomi negara. Hal ini menunjukkan bahwa ada kesenjangan antara apa yang diajarkan di sekolah dan apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh dunia profesional.
Namun, tidak semua berita buruk. Banyak inisiatif positif yang muncul baik dari pemerintah maupun masyarakat sipil untuk memperkecil jarak antara harapan dan kenyataan. Di Surabaya misalnya terdapat program kerja sama antara sekolah dengan perusahaan lokal untuk memberikan pelatihan praktis kepada siswa. Selain itu, banyak guru yang secara mandiri mengikuti pelatihan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan mengintegrasikan teknologi baru dalam proses mengajar. Inisiatif-inisiatif kecil ini secara bertahap mulai memberikan dampak positif pada kualitas pendidikan yang diterima oleh anak muda.
Akhir Januari adalah waktu yang tepat untuk menerangi sejauh mana kita telah berhasil menyusun pendidikan yang sesuai dengan harapan masyarakat. Kita perlu menyadari bahwa mewujudkan pendidikan yang berkualitas bukanlah tugas yang dapat diselesaikan dalam waktu singkat, melainkan proses berkelanjutan yang memerlukan komitmen dari semua pihak. Dengan terus melakukan refleksi dan tindakan korektif, kita dapat secara bertahap menjembatani kesenjangan antara harapan dan kenyataan, sehingga pendidikan yang kita wariskan benar-benar bermanfaat bagi anak muda dan masa depan bangsa.
###
Penulis : Ailsa Widya Imamatuzzadah