Penerapan Pembelajaran Diferensiasi untuk Siswa Slow Learner di SD
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Setiap siswa di sekolah
dasar memiliki kemampuan, minat, dan cara belajar yang unik. Siswa tertentu
cepat memahami materi, tetapi siswa lain membutuhkan waktu lebih lama untuk
memproses informasi, yang disebut sebagai siswa yang lamban. Jika guru tidak
menyesuaikan pendekatan siswa dengan karakteristik ini, mereka sering mengalami
kesulitan mengikuti pelajaran di kelas biasa. Oleh karena itu, pembelajaran
diferensiasi sangat penting untuk memastikan bahwa setiap siswa menerima
pendidikan yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhannya.
Pembelajaran diferensiasi adalah
metode yang mengubah proses, materi, dan hasil pembelajaran untuk memenuhi
kebutuhan siswa. Tujuannya adalah agar setiap siswa, termasuk siswa yang
lambat, dapat mencapai kemampuan terbaik mereka. Guru memainkan peran penting
sebagai fasilitator yang memahami perbedaan setiap orang dan membuat berbagai
strategi pembelajaran.
Ada sejumlah langkah yang dapat
diambil untuk menerapkan pembelajaran diferensiasi pada siswa yang belajar
lambat. Pertama, guru harus melacak kemampuan awal siswa. Melalui observasi dan
asesmen diagnostik, guru dapat mengetahui kemampuan akademik dan kecepatan
belajar masing-masing siswa. Kedua, mengubah media pembelajaran dan pendekatan
pembelajaran. Siswa yang belajar lambat dapat lebih mudah memahami materi
melalui kegiatan konkret, gambar, dan praktik langsung daripada penjelasan
lisan. Media visual, permainan edukatif, dan alat peraga juga dapat membantu
meningkatkan pemahaman mereka tentang materi.
Ketiga, pendidik dapat meluangkan
waktu tambahan untuk memberikan bimbingan individu. Siswa yang belajar lambat
sering membutuhkan dukungan dan pengulangan untuk memahami ide-ide. Agar
pembelajaran lebih interaktif dan fokus, guru dapat membentuk kelompok kecil.
Untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa, umpan balik positif dan motivasi
terus-menerus sangat penting.
Pembelajaran diferensiasi membuat
suasana kelas lebih inklusif dan menghargai perbedaan. Siswa yang belajar
lambat tidak lagi merasa tertinggal; mereka sekarang dapat belajar pada ritme
mereka sendiri. Dengan membuat strategi pembelajaran yang menyenangkan dan
berhasil, guru dapat menjadi lebih kreatif.
Pada akhirnya, pembelajaran
diferensiasi bukan hanya strategi mengajar, melainkan wujud nyata dari prinsip
keadilan dalam pendidikan: memberikan kesempatan yang sama bagi setiap anak
untuk berkembang sesuai potensinya. Dengan pendekatan yang tepat, setiap siswa
termasuk yang slow learner dapat
tumbuh menjadi pembelajar yang percaya diri, mandiri, dan berprestasi.
###
Penulis: Sabila Widyawati
Dokumentasi: Pinterest