Pengalaman Guru Mengembangkan Literasi Visual dan Kreativitas Siswa melalui Proyek Canva
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Literasi visual menjadi bagian penting dari pembelajaran abad ke-21, terutama di jenjang sekolah dasar. Sebagai guru, saya melihat banyak anak memiliki ide, tetapi kesulitan mengekspresikannya. Literasi visual membantu siswa menuangkan gagasan melalui gambar, warna, dan tata letak. Proses ini melatih kreativitas sekaligus kemampuan berpikir terstruktur. Pembelajaran menjadi lebih bermakna ketika anak dapat “bercerita” lewat visual.
Canva saya gunakan sebagai alat sederhana untuk mendukung proses ini. Anak diajak membuat poster, infografik, atau cerita visual sesuai tema pembelajaran. Fokus utama bukan pada hasil estetika, tetapi pada pesan yang ingin disampaikan. Siswa belajar memilih simbol, warna, dan teks yang relevan. Literasi visual pun berkembang seiring proses refleksi.
Sebagai guru, saya melihat Canva membantu diferensiasi pembelajaran. Setiap anak dapat mengekspresikan ide sesuai gaya dan kemampuannya. Anak yang kurang percaya diri menulis, justru lebih berani menyampaikan gagasan secara visual. Proses ini meningkatkan rasa percaya diri siswa. Literasi visual menjadi ruang inklusif bagi keberagaman potensi anak.
Diskusi kelas dilakukan untuk membahas hasil karya, bukan untuk membandingkan. Anak belajar memberi dan menerima umpan balik secara positif. Kegiatan ini melatih komunikasi, empati, dan apresiasi. Canva menjadi sarana pembelajaran kolaboratif, bukan sekadar alat desain. Literasi visual terintegrasi dengan literasi sosial.
Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa kreativitas perlu difasilitasi, bukan dituntut. Teknologi seperti Canva dapat membantu jika digunakan dengan tujuan pedagogis yang jelas. Guru tetap berperan mengarahkan makna dan proses. Literasi visual menjadi bekal penting bagi siswa menghadapi dunia yang semakin visual. Pembelajaran pun terasa lebih hidup dan manusiawi.
Penulis: Arumita Wulan Sari