PENGARUH AKURASI CUACA BESOK TERHADAP MOBILITAS PENDIDIKAN DAN IMPLEMENTASI SDGS LINGKUNGAN
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Informasi mengenai prakiraan cuaca besok telah menjadi data yang sangat krusial bagi orang tua, guru, dan siswa dalam merencanakan kegiatan akademik harian mereka. Ketepatan prediksi cuaca sangat memengaruhi mobilitas siswa, terutama bagi mereka yang tinggal di daerah rawan bencana atau daerah pedesaan yang harus menempuh perjalanan jauh menuju sekolah dengan infrastruktur terbatas. Melalui pemantauan suhu dan curah hujan secara daring, pihak sekolah kini dapat memberikan peringatan dini melalui pesan massal di WhatsApp Web agar siswa tetap waspada atau jika diperlukan, menyesuaikan jadwal kegiatan luar ruangan menjadi pembelajaran daring. Hal ini berkaitan erat dengan poin SDGs nomor 13 mengenai penanganan perubahan iklim dan dampaknya terhadap akses pendidikan bagi masyarakat.
Siswa yang ingin melakukan proses cek PIP untuk memastikan bantuan dana pendidikan mereka telah cair seringkali terkendala oleh kondisi cuaca yang ekstrem jika mereka harus pergi ke bank di pusat kota. Dengan adanya integrasi data digital, pengecekan sebenarnya dapat dilakukan secara mandiri melalui perangkat seluler masing-masing tanpa harus keluar rumah saat badai. Namun, ketika cuaca ekstrem terjadi, stabilitas akses internet seringkali terganggu, yang menunjukkan betapa pentingnya pembangunan infrastruktur yang tangguh terhadap perubahan iklim di seluruh wilayah. Kemendikdasmen terus berupaya agar sistem administrasi seperti PIP Kemendikdasmen tetap stabil dan dapat diakses dalam kondisi lingkungan yang menantang sekalipun, guna menjamin kelangsungan belajar.
Hubungan antara pengetahuan tentang cuaca dan pendidikan juga terlihat pada bagaimana sekolah-sekolah saat ini mulai mengadaptasi kurikulum berbasis lingkungan yang kontekstual. Siswa diajarkan untuk memahami pola iklim global melalui data yang tersedia di internet dan membandingkannya secara langsung dengan kondisi di lapangan tempat mereka tinggal. Penggunaan platform edukasi untuk memantau prakiraan cuaca memberikan pengalaman belajar yang nyata, di mana siswa belajar tentang ilmu alam sekaligus mengasah literasi data mereka sejak dini. Hal ini sangat mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan dalam membekali generasi muda dengan pengetahuan dan kesadaran untuk menghadapi tantangan lingkungan di masa depan yang semakin tidak menentu.
Selain itu, bantuan dari program PIP sangat krusial untuk memastikan bahwa siswa dari keluarga rentan tetap memiliki perlengkapan sekolah yang memadai untuk menghadapi perubahan cuaca, seperti payung, jas hujan, atau sepatu yang layak. Informasi mengenai cuaca yang akurat membantu keluarga dalam merencanakan pengeluaran dan aktivitas harian mereka secara lebih efisien dan hemat. Di sinilah peran teknologi informasi menjadi jembatan yang sangat penting antara kebijakan pemerintah pusat dengan kebutuhan riil masyarakat di tingkat paling bawah, memastikan bahwa bantuan sosial tepat sasaran dan memberikan dampak maksimal pada partisipasi sekolah siswa.
Secara keseluruhan, pemantauan kondisi lingkungan dan kemudahan akses terhadap bantuan pendidikan adalah dua sisi mata uang yang sama dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Dengan memanfaatkan teknologi informasi untuk memantau cuaca dan mengelola program bantuan seperti PIP, pemerintah dapat secara proaktif mengurangi angka putus sekolah yang disebabkan oleh faktor-faktor eksternal lingkungan. Sinergi ini memperkuat fondasi pendidikan nasional yang lebih inklusif, tangguh, dan berkelanjutan. Kita harus memastikan bahwa setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk belajar secara konsisten, terlepas dari seberapa besar tantangan iklim dan cuaca yang mereka hadapi di lingkungan tempat tinggal mereka.
###
Penulis: Anisa Rahmawati