Pengaruh Cuaca terhadap Efektivitas Pembelajaran Tatap Muka
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Cuaca saat ini yang semakin tidak menentu di Indonesia berdampak signifikan terhadap proses pembelajaran di sekolah, menciptakan tantangan yang sering diabaikan dalam diskusi tentang kualitas pendidikan. Ketika hujan deras mengguyur, banyak siswa terlambat atau bahkan tidak masuk sekolah karena banjir menggenangi jalanan, terutama di daerah perkotaan seperti Jakarta yang infrastruktur drainasenya belum memadai.
Ada hari-hari dimana absensi siswa bisa mencapai tiga puluh hingga lima puluh persen karena akses ke sekolah terputus oleh genangan air. Guru terpaksa mengulang materi di hari berikutnya, mengganggu rencana pembelajaran yang sudah disusun. Situasi ini tidak hanya mempengaruhi siswa yang tidak bisa hadir, tetapi juga mengganggu ritme belajar seluruh kelas. Sebaliknya, saat cuaca panas terik yang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim, ruang kelas yang tidak ber-AC membuat siswa gerah dan sulit berkonsentrasi pada pelajaran. Penelitian menunjukkan bahwa suhu ruangan yang terlalu panas dapat menurunkan daya serap siswa terhadap pelajaran hingga dua puluh persen, mempengaruhi kemampuan kognitif dan daya ingat mereka.
Banyak sekolah di daerah perkotaan menghadapi tantangan ini dengan keterbatasan fasilitas pendingin ruangan karena biaya operasional dan listrik yang mahal. Di siang hari, terutama pada jam pelajaran setelah istirahat, siswa sering terlihat lemas dan mengantuk bukan karena malas tetapi karena kondisi fisik yang tidak nyaman. Guru pun mengalami kesulitan yang sama, harus mengajar dalam kondisi yang tidak kondusif sambil berusaha menjaga energi dan antusiasme mereka.
Fenomena perubahan iklim yang membuat cuaca ekstrem semakin sering terjadi memaksa sistem pendidikan untuk berpikir ulang tentang infrastruktur sekolah dan fleksibilitas sistem pembelajaran. Beberapa sekolah mulai mempertimbangkan jadwal belajar yang lebih fleksibel, misalnya memulai sekolah lebih pagi untuk menghindari panas terik di siang hari, atau mengimplementasikan sistem hybrid learning dimana siswa bisa belajar dari rumah ketika cuaca ekstrem diperkirakan terjadi.
Ada juga inisiatif untuk memperbaiki infrastruktur sekolah dengan ventilasi yang lebih baik, memasang pohon peneduh di sekitar sekolah, atau menggunakan cat reflektif yang mengurangi penyerapan panas. Diskusi tentang dampak cuaca terhadap pembelajaran ini menunjukkan bahwa kualitas pendidikan tidak hanya tentang kurikulum dan kompetensi guru, tetapi juga tentang kondisi lingkungan fisik yang mendukung proses belajar mengajar yang optimal. Penulis : Nisrina Betari Athillah Sumber : google.image