Pengaruh Era Digital: Siswa SD Kini Cenderung Belajar dengan Gaya "Scanning" dan Multitasking
Paparan gawai dan konten digital sejak usia dini telah membentuk gaya belajar baru pada generasi siswa sekolah dasar saat ini. Para peneliti mengamati adanya kecenderungan kuat pada anak-anak untuk belajar dengan gaya "scanning" atau memindai informasi secara cepat, mirip seperti saat mereka menjelajahi linimasa media sosial. Mereka lebih menyukai informasi yang disajikan dalam potongan-potongan kecil (bite-sized), visual yang menarik, dan video berdurasi pendek, namun seringkali kesulitan untuk fokus pada teks panjang dan mendalam.
Fenomena ini juga diiringi dengan kebiasaan multitasking, di mana siswa terbiasa belajar sambil mendengarkan musik atau sesekali melirik notifikasi di gawai mereka. Meskipun anak-anak merasa bisa melakukan banyak hal sekaligus, penelitian neurosains menunjukkan bahwa multitasking sebenarnya mengurangi efisiensi dan kedalaman pemrosesan informasi. Otak hanya beralih fokus dengan sangat cepat, yang mengakibatkan pemahaman yang dangkal dan retensi memori yang lebih rendah.
Tantangan ini memaksa para pendidik untuk beradaptasi. Beberapa guru mencoba memanfaatkan tren ini dengan menggunakan platform seperti TikTok Edukasi atau kuis interaktif singkat untuk menarik perhatian awal siswa. Namun, tantangan yang lebih besar adalah melatih kembali kemampuan siswa untuk fokus mendalam (deep focus) dan berpikir kritis, keterampilan yang esensial untuk pemecahan masalah yang kompleks. Sekolah perlu secara sadar merancang aktivitas "bebas gawai" yang melatih konsentrasi dan ketekunan.
Pada akhirnya, sekolah dihadapkan pada tugas untuk menyeimbangkan dua hal: memanfaatkan gaya belajar digital yang relevan dengan dunia anak, sekaligus membekali mereka dengan keterampilan kognitif fundamental yang tidak boleh tergerus oleh zaman. Mengajarkan kapan harus "memindai" dan kapan harus "menyelam" dalam informasi menjadi salah satu kompetensi literasi terpenting yang harus ditanamkan pada siswa SD di era digital ini.