Pengaruh Strategi Multisensori terhadap Kemampuan Membaca Anak Disleksia
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —
Membaca adalah keterampilan penting yang sangat penting untuk keberhasilan akademik di sekolah. Namun, kegiatan
membaca menjadi tantangan bagi anak dengan disleksia. Ini adalah gangguan
belajar yang ditandai dengan kesulitan dalam mengenali huruf, mengeja, dan
memahami bacaan, meskipun tingkat kecerdasan anak berada di batas normal. Anak-anak dengan
disleksia membutuhkan pendekatan pembelajaran yang berbeda dari anak-anak normal karena
mereka sering mengalami kesulitan dalam menghubungkan huruf dengan bunyinya.
Salah
satu pendekatan yang terbukti efektif untuk membantu anak disleksia adalah
strategi multisensori. Strategi multisensori melibatkan lebih dari satu indera dalam proses belajar, seperti sentuhan (taktil), pendengaran
(auditori), penglihatan (visual), dan gerakan (kinestetik). Metode ini telah
terbukti efektif untuk membantu anak dengan disleksia. Metode ini membantu anak
belajar tidak hanya melihat dan mendengar huruf, tetapi juga merasakannya,
menulisnya, atau menggerakkan tubuh sesuai bunyi huruf. Misalnya, mereka dapat
melihat huruf "b", mendengar guru mengucapkannya, menelusuri
bentuknya dengan jari di atas pasir, dan mengucapkannya secara bersamaan.
Pendekatan
multisensori membantu anak disleksia membangun lebih banyak jalur koneksi
antarindera, yang meningkatkan penyerapan informasi. Aktivitas yang melibatkan
berbagai indera sekaligus meningkatkan fokus, memori, dan motivasi belajar.
Studi menunjukkan bahwa strategi multisensori dapat meningkatkan kemampuan
fonologis, kecepatan membaca, dan pemahaman bacaan anak dengan disleksia.
Selain itu, metode ini membuat belajar lebih menyenangkan dan interaktif. Anak-anak tidak hanya membaca teks secara diam-diam, tetapi mereka juga aktif bergerak, mendengarkan, menulis, dan berbicara. Ini meningkatkan kepercayaan diri mereka karena mereka merasa mampu belajar dengan cara yang sesuai dengan gaya pembelajaran mereka sendiri.
Strategi
multisensori dapat diterapkan di rumah dengan dukungan orang tua dan guru. Guru harus memahami kebutuhan anak disleksia
dan merencanakan kegiatan pembelajaran yang menggunakan berbagai indera. Untuk
melanjutkan latihan di rumah,
orang tua juga bisa bermain huruf dengan berbagai tekstur
atau membaca sambil bernyanyi. Dengan demikian, strategi multisensori bukan
hanya membantu anak disleksia dalam membaca, tetapi juga membantu mereka
berprestasi di sekolah dengan lebih percaya diri.
###
Penulis: Sabila Widyawati
Dokumentasi: Pinterest