Pengumuman Dua Bahasa: WhatsApp Web dan Google Translate untuk Sekolah Inklusif
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Di beberapa sekolah dasar, terutama yang berada di wilayah perkotaan atau daerah wisata, sering kali terdapat keragaman latar belakang siswa maupun orang tua, termasuk mereka yang mungkin lebih fasih berbahasa asing (ekspatriat) atau bahasa daerah tertentu dibandingkan Bahasa Indonesia. Untuk mendukung prinsip inklusivitas pendidikan dan SDG 10 tentang Berkurangnya Kesenjangan, guru dapat mengambil inisiatif cerdas dengan menggunakan kombinasi Google Translate dan WhatsApp Web dalam komunikasi sekolah. Saat hendak mengirimkan pengumuman penting di grup WhatsApp kelas, guru menerjemahkan inti pesan ke dalam Bahasa Inggris (atau bahasa lain yang relevan) menggunakan Google Translate, lalu mengirimkan kedua versi bahasa tersebut secara bersamaan melalui WhatsApp Web.
Langkah komunikasi bilingual ini sangat realistis dilakukan dan sangat membantu memastikan tidak ada miskomunikasi atau kesalahpahaman informasi antara pihak sekolah dan rumah tangga siswa. Misalnya, info krusial tentang perubahan jadwal libur, jadwal imunisasi, atau perlengkapan ujian. Dengan adanya terjemahan pendamping, orang tua yang memiliki kendala bahasa tetap mendapatkan hak akses informasi yang sama akuratnya dengan orang tua lain. Penggunaan WhatsApp Web di komputer sangat memudahkan guru untuk menyalin hasil terjemahan dari browser internet ke jendela chat grup dengan cepat, rapi, dan efisien tanpa harus mengetik ulang di ponsel.
Bagi siswa di kelas, melihat gurunya secara konsisten menggunakan dua bahasa dalam pengumuman resmi menumbuhkan kesadaran alami akan keberagaman dan toleransi. Mereka belajar secara implisit bahwa bahasa adalah alat komunikasi yang berfungsi menjembatani perbedaan antarmanusia. Guru juga bisa sesekali mengirimkan sapaan sederhana atau kata-kata motivasi dalam bahasa asing di grup untuk mengenalkan wawasan global tipis-tipis kepada siswa dan orang tua, menciptakan suasana komunitas yang terbuka dan berwawasan luas.
Penggunaan teknologi sederhana ini menunjukkan kepedulian dan komitmen sekolah terhadap aksesibilitas informasi bagi seluruh warga sekolah. Sekolah berupaya merangkul semua wali murid tanpa terkecuali, menghargai latar belakang mereka. Google Translate membantu mengatasi hambatan bahasa teknis yang mungkin menjadi jurang pemisah, sementara WhatsApp Web memastikan pesan inklusif tersebut sampai dengan cepat dan tepat sasaran ke gawai setiap orang tua.
Sinergi sederhana namun powerful antara dua alat digital ini menciptakan iklim komunikasi sekolah yang ramah, profesional, transparan, dan inklusif. Semua pihak, baik guru, siswa, maupun orang tua dari berbagai latar belakang, merasa dihargai, dihormati, dan dilibatkan secara penuh dalam proses pendidikan anak, yang merupakan kunci keberhasilan pendidikan dasar yang berkualitas.
###
Penulis: Maulidia Evi Aprilia