Pentingnya ‘Istirahat Emosional’ di Tengah Padatnya Tugas Sekolah
s2dikdas.fip.unesa.ac.id SURABAYA— Setiap
pagi, bel masuk sekolah menjadi awal dari hari yang padat bagi banyak siswa.
Dari pelajaran bertubi-tubi, tugas harian yang menumpuk, hingga kegiatan
ekstrakurikuler yang mengisi waktu sore. Di balik tawa dan canda yang mungkin
terlihat biasa, banyak siswa sebenarnya menyimpan kelelahan yang tak kasat
mata. Bukan hanya lelah fisik, tapi lelah mental—beban yang tak bisa diukur
dengan angka, namun terasa menyesakkan di dalam dada. Di sinilah muncul
kebutuhan yang sering diabaikan: "istirahat emosional"
Istirahat emosional bukanlah tidur
siang atau sekadar duduk diam. Ini adalah ruang jeda yang memungkinkan
seseorang—terutama anak dan remaja—untuk berhenti sejenak dari tekanan batin,
mengatur ulang pikirannya, dan kembali merasa tenang. Dalam dunia pendidikan
yang semakin kompetitif, kebutuhan ini menjadi semakin penting, namun
ironisnya, justru sering terpinggirkan.
Fenomena siswa yang mengalami stres
karena sekolah bukan lagi hal baru. Beberapa bahkan mengaku merasa cemas setiap
kali ada ulangan atau pengumpulan tugas. Tak sedikit yang mulai kehilangan
semangat, mengalami gangguan tidur, hingga menarik diri dari pergaulan. Mereka
merasa harus selalu tampil baik, selalu mendapat nilai tinggi, selalu siap
menghadapi tuntutan—tanpa diberi waktu untuk bernapas. Padahal, belajar
seharusnya tidak membuat anak merasa tertekan. Sekolah semestinya menjadi
tempat yang aman untuk tumbuh, bukan hanya tempat untuk diuji. Sayangnya,
budaya “terus produktif” yang diam-diam ditanamkan dalam sistem pendidikan
membuat banyak siswa merasa bersalah saat ingin beristirahat, apalagi jika
istirahat itu bersifat emosional.
Beberapa sekolah mulai menyadari
pentingnya hal ini. Ada yang memulai hari dengan sesi meditasi ringan atau
latihan pernapasan. Ada pula sekolah yang secara rutin menyediakan waktu
refleksi, di mana siswa bisa menuliskan isi hatinya tanpa dinilai. Bahkan,
beberapa guru kini mulai membiasakan diri untuk tidak memberi tugas berlebihan
di akhir pekan, agar anak-anak bisa menikmati waktu bersama keluarga tanpa
tekanan.
Namun, perubahan ini belum merata.
Masih banyak siswa yang harus menjalani hari-hari sekolah seperti mesin:
datang, belajar, mengerjakan tugas, pulang—tanpa sempat bertanya pada diri
sendiri, “Apakah aku baik-baik saja hari ini?”
Sudah saatnya kita mengubah cara
pandang terhadap pendidikan. Anak bukan hanya makhluk akademik, tapi juga
manusia dengan perasaan, tekanan, dan batas. Memberikan waktu istirahat
emosional bukan berarti memanjakan, melainkan membekali mereka dengan kemampuan
untuk mengenali dan mengelola perasaannya. Kemampuan yang justru akan sangat
berguna ketika mereka dewasa nanti. Karena sejatinya, pendidikan bukan hanya
membentuk kepala yang pintar, tapi juga hati yang sehat dan jiwa yang kuat. Dan
itu semua dimulai dari keberanian untuk memberi ruang: ruang untuk istirahat,
ruang untuk merasa, dan ruang untuk menjadi manusia seutuhnya.
Penulis: Shevila Salsabila Al Aziz
Sumber: Google