Perubahan Cuaca Ekstrem sebagai Hambatan dalam Pelaksanaan Pembelajaran Luar Kelas di SD
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Pembelajaran luar kelas selama ini dianggap sebagai pendekatan yang efektif untuk memberikan pengalaman belajar langsung kepada siswa SD. Namun, perubahan cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi membuat kegiatan ini sulit direncanakan. Guru tidak dapat lagi mengandalkan pola cuaca yang stabil seperti dulu, sehingga risiko keselamatan siswa meningkat. Situasi ini membuat pembelajaran luar kelas yang seharusnya menyenangkan menjadi penuh ketidakpastian. Akhirnya, guru kerap memilih opsi aman dengan tetap berada di dalam ruang kelas.
Dalam konteks pendidikan dasar, hilangnya kesempatan belajar di luar kelas berdampak pada eksplorasi siswa. Anak usia SD belajar paling baik melalui aktivitas konkret, terutama ketika mereka dapat mengamati lingkungan secara langsung. Ketika cuaca tidak mendukung, guru harus mencari alternatif yang tetap mempertahankan unsur keaktifan siswa. Namun tidak semua sekolah memiliki fasilitas indoor yang memadai untuk simulasi pembelajaran alam. Kesenjangan ini menjadi tantangan tambahan dalam implementasi kurikulum yang mendorong pengalaman belajar nyata.
Selain itu, perubahan cuaca ekstrem dapat mengganggu jadwal proyek sains yang dirancang untuk mengamati fenomena alam. Misalnya, kegiatan mengamati bayangan matahari, pola angin, atau kondisi tanah dapat gagal jika cuaca berubah tiba-tiba. Kondisi ini membuat guru harus selalu menyiapkan rencana cadangan agar tujuan pembelajaran tetap tercapai. Namun penyusunan dua rencana sekaligus tentu menyita waktu dan energi guru. Akibatnya, kualitas pelaksanaan kegiatan dapat menurun karena terlalu banyak penyesuaian mendadak.
Orang tua juga merasakan dampak dari ketidakstabilan cuaca ini. Mereka harus memastikan anak membawa perlengkapan tambahan seperti jas hujan, payung, atau pakaian ganti setiap kali ada kegiatan luar kelas. Kondisi ini dapat menjadi beban, terutama bagi orang tua yang memiliki keterbatasan ekonomi. Ketidakpastian cuaca juga membuat orang tua lebih khawatir terhadap risiko kesehatan seperti flu atau kelelahan. Kekhawatiran ini sering memengaruhi izin yang diberikan kepada anak untuk mengikuti kegiatan luar ruangan.
Dengan kenyataan tersebut, sekolah perlu mengembangkan strategi pembelajaran adaptif agar eksplorasi tetap bisa dilakukan meski cuaca tidak bersahabat. Guru dapat memanfaatkan ruang semi-terbuka, membuat mini-laboratorium kelas, atau menggunakan teknologi simulasi cuaca sebagai alternatif. Pendekatan ini menjaga semangat belajar berbasis pengalaman tanpa mengorbankan keselamatan siswa. Adaptasi semacam ini sangat dibutuhkan dalam dunia pendidikan yang kini harus menghadapi dampak nyata perubahan iklim. Dengan perencanaan yang fleksibel, pembelajaran tetap dapat berlangsung efektif meski kondisi alam tidak menentu.
###
Penulis: Arumita Wulan Sari
Dokumentasi: Google