Pesan Tersembunyi di Balik Tugas Sekolah: Integritas Mulai dari Jempol
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Di era teknologi layar sentuh yang serba cepat, nilai integritas atau kejujuran kini berada tepat di ujung jari kita setiap kali kita memegang ponsel atau perangkat tablet untuk mengerjakan tugas sekolah. Guru-guru di beberapa sekolah dasar di Surabaya mulai gencar menerapkan metode "Cek Keaslian" guna mengajak para siswa lebih teliti serta berhati-hati dalam menyusun tugas agar tidak sekadar memindahkan teks secara mentah dari mesin pencari Google ke dalam buku tulis mereka. Langkah edukatif ini diambil karena adanya kekhawatiran yang mendalam mengenai mulai lunturnya rasa bangga terhadap hasil karya mandiri di kalangan generasi alfa yang sudah sangat akrab dengan dunia digital sejak lahir.
Integritas sebenarnya bukanlah sebuah istilah yang sulit dipahami atau hanya sekadar hafalan di dalam buku pelajaran PPKN, melainkan sebuah tindakan nyata yang kita lakukan saat kita memilih untuk tetap jujur meskipun tidak ada guru atau orang tua yang mengawasi. Menghargai orisinalitas dalam setiap tugas sekolah akan sangat membantu kita dalam membangun karakter yang kuat, tangguh, serta dapat dipercaya oleh orang lain saat kita tumbuh dewasa nanti. Penting bagi setiap siswa untuk menyadari bahwa kejujuran adalah modal utama dalam pergaulan, baik di dunia nyata maupun di ruang publik digital yang sangat luas.
Data dari berbagai studi psikologi pendidikan menunjukkan bahwa kepuasan batin yang didapatkan dari hasil kerja keras sendiri jauh lebih tinggi dan bertahan lama dibandingkan dengan rasa senang semu yang didapat dari hasil mencontek. Ketika seorang siswa berhasil menyusun sebuah paragraf dengan kalimatnya sendiri, ada proses kebanggaan yang muncul karena ia merasa mampu menguasai suatu materi dengan baik. Hal inilah yang ingin terus ditumbuhkan oleh para pendidik agar siswa tidak hanya mengejar nilai dalam bentuk angka, tetapi juga mengejar kualitas karakter yang jujur dan berwibawa.
Kita harus selalu mengingat bahwa satu paragraf yang merupakan murni buatan sendiri jauh lebih berharga dan bermakna daripada sepuluh halaman laporan yang hanya merupakan hasil curian ide milik orang lain tanpa mencantumkan sumbernya. Mari kita mulai menggunakan jempol kita untuk menciptakan hal-hal baru yang bermanfaat, menuliskan pendapat yang unik, dan berbagi pengetahuan dengan cara yang benar, bukan sekadar menduplikasi atau meniru apa yang sudah ada. Dengan cara ini, kita sedang belajar untuk menjadi pencipta masa depan yang memiliki ciri khas dan tidak mudah ikut-ikutan tren yang negatif.
Proses menjaga integritas di ujung jari ini juga melatih kita untuk lebih kritis dalam memilah informasi yang kita temukan di internet sebelum menggunakannya sebagai bahan tugas. Tidak semua informasi di dunia maya itu benar, sehingga dengan menulis secara orisinal, kita juga belajar untuk memverifikasi fakta dan memastikan bahwa apa yang kita sampaikan adalah kebenaran. Kemampuan untuk berpikir jernih dan jujur inilah yang akan membuat seorang siswa SD menonjol di antara teman-temannya sebagai sosok yang cerdas sekaligus berintegritas.
Oleh karena itu, setiap kali kalian merasa malas dan ingin mengambil jalan pintas dengan menyalin jawaban dari internet, ingatlah bahwa ada "pesan tersembunyi" di setiap tugas yang diberikan oleh guru kalian. Tugas itu bukan hanya soal materi pelajaran, tetapi soal latihan kejujuran dan sejauh mana kalian menghargai kemampuan diri sendiri untuk berpikir. Jadikan setiap ketukan jempol di atas layar sebagai langkah pasti menuju pribadi yang lebih jujur dan selalu menjunjung tinggi nilai-nilai orisinalitas dalam berkarya.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah