Prakiraan Kebun Kelas: Memadukan Data Cuaca dan ChatGPT untuk Jadwal Menyiram Tanaman
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Menjaga ekosistem sekolah melalui kegiatan berkebun mini merupakan cara efektif untuk mengajarkan tanggung jawab lingkungan sesuai dengan SDG 15. Namun, seringkali tanaman di sekolah tidak terawat dengan baik karena jadwal penyiraman yang tidak teratur atau tidak menyesuaikan dengan kondisi alam. Untuk mengatasi masalah ini secara modern, guru-guru di sekolah dasar kini mengajak siswa untuk melakukan pengecekan cuaca harian dan berkonsultasi dengan ChatGPT untuk menentukan apakah tanaman perlu disiram atau tidak hari ini. Inovasi ini sangat realistis bagi siswa SD kelas atas karena menggabungkan pengamatan lingkungan nyata dengan asisten kecerdasan buatan untuk pengambilan keputusan yang tepat dan ilmiah.
Setiap pagi sebelum pelajaran dimulai, petugas piket kelas bertugas mengecek status cuaca di luar ruangan dan melihat prediksi kelembapan udara melalui situs atau aplikasi cuaca di komputer sekolah. Setelah mendapatkan data tersebut, mereka memasukkan informasi cuaca ke dalam ChatGPT dengan pertanyaan sederhana: "Hari ini cuaca mendung dan kelembapan tinggi, apakah kami harus menyiram tanaman tomat di kelas?". Jawaban yang diberikan oleh AI, yang menyertakan alasan logis mengapa tanaman tidak perlu disiram secara berlebihan saat mendung, memberikan pelajaran sains yang mendalam bagi siswa. Proses ini melatih siswa untuk berpikir kritis bahwa sebuah tindakan (menyiram air) harus didasarkan pada data dan kebutuhan, bukan sekadar kebiasaan rutin yang buta tanpa pertimbangan lingkungan.
Integrasi teknologi ini secara tidak langsung mendukung SDG 6 tentang efisiensi penggunaan air dan pencegahan pemborosan sumber daya alam. Siswa belajar bahwa jika cuaca menunjukkan akan hujan, mereka bisa menghemat air dengan tidak menyiram tanaman pagi itu. Melalui ChatGPT, siswa juga mendapatkan tips-tips tambahan tentang cara merawat tanaman tertentu yang mungkin sedang layu atau terkena hama, sehingga pengetahuan mereka tentang botani menjadi lebih luas melampaui apa yang ada di buku teks sekolah. Guru tetap mengawasi setiap instruksi yang keluar dari AI untuk memastikan langkah-langkah yang diambil aman dan sesuai dengan kondisi fisik kebun sekolah mereka yang sebenarnya.
Kegiatan ini sangat disenangi siswa karena mereka merasa sedang berinteraksi dengan "asisten ahli" yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka dengan cepat dan bahasa yang mudah dimengerti. Interaksi ini juga melatih kemampuan literasi digital siswa dalam menyusun kalimat tanya (prompting) yang efektif agar mendapatkan jawaban yang akurat dari mesin AI. Guru memanfaatkan momen ini untuk menjelaskan bahwa teknologi harus digunakan untuk membantu kehidupan manusia dan menjaga alam, sehingga membangun etika digital yang positif sejak dini. Keberhasilan tanaman yang tumbuh subur karena penyiraman yang tepat berdasarkan data menjadi bukti nyata dari efektifitas kolaborasi antara manusia, alam, dan teknologi di lingkungan pendidikan dasar.
Secara keseluruhan, penggunaan kombinasi data cuaca dan ChatGPT dalam pengelolaan kebun sekolah merupakan contoh cerdas penerapan smart farming skala mikro di sekolah dasar. Siswa tidak hanya belajar menanam, tetapi juga belajar menjadi manajer lingkungan yang berbasis data dan teknologi. Inovasi ini membuktikan bahwa kecerdasan buatan bisa menjadi alat yang sangat berguna untuk mendukung kelestarian alam jika digunakan dengan bijak dan tepat sasaran. Pendidikan dasar yang demikian akan melahirkan generasi masa depan yang melek teknologi namun tetap memiliki ikatan emosional dan tanggung jawab yang kuat terhadap ekosistem bumi yang mereka tinggali.
###
Penulis: Maulidia Evi Aprilia