Program Makan Siang Gratis: Tidak Cuma Urusan Perut – Literasi Gizi Jadi Prioritas Utama
S2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Program makan siang gratis yang kini banyak bertransformasi menjadi program makan siang bergizi telah mengalami perubahan paradigma yang signifikan. Dahulu, fokus utama adalah memenuhi kebutuhan pangan dasar agar masyarakat tidak kelaparan. Namun, seiring dengan meningkatnya kesadaran tentang hubungan antara gizi dan kesehatan, serta tingginya angka masalah gizi seperti kekurangan zat gizi dan obesitas, penyelenggara program mulai menjadikan literasi gizi sebagai prioritas utama yang tidak bisa dikecualikan dari pemberian makanan.
Di Surabaya, beberapa sekolah dan lembaga swadaya masyarakat yang menjalankan program ini telah mengembangkan sistem yang terintegrasi antara pemberian makanan dan edukasi gizi. Setiap minggu, menu makanan dirancang berdasarkan tema gizi tertentu, seperti “Hari Sayuran berwarna”, “Protein untuk Pertumbuhan”, atau “Pentingnya Serat untuk Pencernaan”. Petugas yang menangani program dilatih khusus untuk dapat menjelaskan tema tersebut dengan bahasa yang mudah dipahami, terutama bagi anak-anak yang menjadi sasaran program utama.
Selain mendidik saat menyajikan makanan, program juga bekerja sama dengan guru dan orang tua untuk memperkuat pesan literasi gizi. Di sekolah-sekolah yang menerapkan program ini, mata pelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan diisi dengan materi yang terkait dengan pola makan sehat dan gizi seimbang. Bagi orang tua, diadakan pertemuan rutin yang membahas tentang cara mendukung kebiasaan makan sehat anak di rumah, mulai dari memilih bahan makanan hingga cara menyajikannya agar menarik dan bergizi. Beberapa program bahkan memberikan paket bahan makanan lengkap beserta resep kepada orang tua agar mereka dapat mencoba memasaknya sendiri.
Dampak positif dari pendekatan ini mulai tercatat dalam berbagai aspek. Data dari beberapa sekolah menunjukkan peningkatan prestasi belajar anak-anak setelah mengikuti program, karena tubuh yang mendapatkan gizi yang cukup dapat bekerja lebih optimal. Selain itu, angka sakit karena kekurangan zat gizi atau penyakit terkait pola makan tidak sehat menurun secara signifikan. Banyak anak yang juga mulai aktif dalam mengajak teman dan keluarganya untuk mengonsumsi makanan bergizi, sehingga menjadi agen perubahan dalam lingkungannya sendiri.
Pengembangan program ini membutuhkan kerja sama yang erat antara berbagai pemangku kepentingan. Pemerintah dapat mengembangkan kebijakan yang mendukung integrasi literasi gizi dalam program makan siang gratis, serta memberikan insentif bagi pihak yang menjalankannya. Perusahaan makanan dan industri pertanian lokal dapat berperan dalam menyediakan bahan makanan berkualitas dengan harga terjangkau. Dengan menjadikan literasi gizi sebagai prioritas utama, program makan siang gratis tidak hanya memberikan manfaat langsung bagi penerimanya, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia di masa depan.
###
Penulis : Ailsa Widya Imamatuzzadah