Revolusi Chat GPT dalam Membantu Siswa Mengerjakan Tugas Sekolah
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Chat GPT telah menjadi fenomena baru di kalangan pelajar Indonesia yang mencari bantuan cepat untuk mengerjakan tugas. Dari menulis esai hingga menjelaskan konsep matematika yang rumit, kecerdasan buatan ini menawarkan solusi instan yang menggiurkan bagi siswa yang tertekan deadline. Platform ini viral di media sosial, dengan banyak siswa saling berbagi tips tentang cara meminta Chat GPT mengerjakan berbagai jenis tugas. Ada yang menggunakannya untuk membuat outline karya tulis, merangkum buku pelajaran, menjelaskan rumus fisika, bahkan membuat kode program untuk tugas informatika. Kemudahan akses dan respons yang cepat membuat Chat GPT menjadi semacam asisten belajar pribadi yang tersedia dua puluh empat jam.
Namun kemunculan Chat GPT menimbulkan perdebatan sengit di dunia pendidikan Indonesia tentang integritas akademik dan esensi pembelajaran. Banyak guru merasa khawatir siswa tidak lagi belajar berpikir kritis karena tinggal bertanya ke AI tanpa usaha sendiri. Mereka melihat fenomena siswa yang mendapat nilai bagus namun tidak benar-benar memahami materi karena semua tugas dikerjakan oleh AI. Beberapa sekolah bahkan mulai melarang penggunaan Chat GPT untuk tugas-tugas tertentu dan menggunakan aplikasi pendeteksi konten AI untuk memeriksa keaslian karya siswa. Orang tua juga terbagi pendapat, ada yang mendukung penggunaan teknologi ini sebagai alat bantu belajar modern, namun ada juga yang khawatir anak mereka kehilangan kemampuan berpikir mandiri.
Namun ada juga pendidik yang melihat ini sebagai peluang untuk mengubah cara mengajar, dengan fokus pada pemahaman konsep daripada hafalan, dan mengajarkan siswa cara menggunakan AI sebagai alat bantu bukan pengganti belajar. Guru-guru ini mengadaptasi metode penilaian mereka, lebih banyak menggunakan ujian lisan, presentasi, atau proyek praktik yang membutuhkan demonstrasi pemahaman nyata. Mereka juga mengajarkan literasi AI, bagaimana menggunakan Chat GPT secara etis dan efektif, seperti menggunakannya untuk brainstorming ide atau memahami konsep yang sulit, bukan untuk menyalin jawaban mentah-mentah. Diskusi tentang etika penggunaan Chat GPT dalam pendidikan menjadi topik hangat di forum-forum guru dan orang tua, mencerminkan fase transisi sistem pendidikan Indonesia menghadapi era kecerdasan buatan yang tidak bisa dihindari lagi. Penulis : Nisrina Betari Athillah Sumber : google.image