Revolusi Numerasi: Membangun Nalar Kritis di Atas Hafalan Tabel Perkalian
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Hafalan tabel perkalian 1 sampai 10
seringkali menjadi tolok ukur tunggal kesuksesan belajar matematika bagi siswa
kelas 2 dan 3 SD di banyak sekolah di Indonesia. Namun, para pakar pendidikan
global kini mulai mempertanyakan efektivitas metode hafalan buta tersebut dalam
membangun nalar kritis siswa di tengah era disrupsi informasi yang sangat
cepat. Berdasarkan hasil evaluasi literasi numerasi nasional, ditemukan
kesenjangan yang sangat lebar antara kemampuan anak dalam menyelesaikan soal
hitungan teknis di kertas dengan kemampuan mereka menggunakan angka untuk
mengambil keputusan strategis dalam kehidupan nyata.
Fenomena ini sering disebut oleh para akademisi sebagai "ilusi
kompetensi," di mana siswa tampak mahir matematika karena nilai ujiannya
tinggi, namun sebenarnya mereka hanya mahir mengikuti prosedur instruksional
tanpa pemahaman esensi materi sedikit pun. Saat konteks atau narasi soal diubah
sedikit saja dari pola yang biasa mereka pelajari di buku teks, banyak siswa
yang langsung mengalami kebuntuan berpikir. Hal ini menjadi bukti kuat bahwa
pengajaran matematika dasar selama ini masih terjebak pada level kognitif
rendah, yaitu sekadar mengingat dan memahami, namun belum mencapai level
menganalisis atau mengevaluasi informasi.
Paradigma baru dalam dunia pendidikan modern menuntut adanya integrasi
numerasi dalam berbagai aspek kehidupan siswa, bukan hanya terbatas pada jam
pelajaran matematika di dalam kelas. Siswa harus diajak untuk melihat bahwa
angka adalah alat komunikasi yang sangat kuat untuk menjelaskan fenomena
sosial, ekonomi, hingga sains yang terjadi di sekeliling mereka. Misalnya,
memahami konsep rata-rata bisa digunakan untuk mendiskusikan masalah kebersihan
lingkungan atau distribusi bantuan di kelas, sehingga matematika tidak lagi
dianggap sebagai benda asing, melainkan sesuatu yang "hidup" dan
relevan bagi eksistensi mereka.
Dampak buruk dari pengajaran yang terlalu teknis dan menekankan pada
hafalan adalah munculnya math anxiety atau kecemasan matematika yang
akut sejak usia yang sangat dini. Anak-anak merasa tertekan dan ketakutan untuk
memberikan jawaban yang salah, yang pada akhirnya mematikan keberanian alami
mereka untuk bereksperimen dengan logika baru. Padahal, inti dari matematika
adalah proses trial and error, di mana kesalahan logika seharusnya
dipandang sebagai jembatan emas menuju pemahaman yang lebih sempurna, bukan
sebagai bentuk kegagalan permanen yang patut diberikan hukuman atau label
negatif.
Data pendukung dari berbagai literatur pendidikan menunjukkan bahwa
negara-negara dengan performa numerasi tinggi, seperti Singapura dan Jepang,
sangat menekankan pada penggunaan representasi visual sebelum masuk ke simbol
abstrak. Siswa SD di sana diajarkan menggunakan diagram blok atau benda fisik
untuk memecahkan masalah matematika yang kompleks, sehingga struktur logika di
otak mereka terbangun dengan kokoh sejak awal. Indonesia perlu segera
mengadaptasi metode serupa agar siswa tidak merasa asing dengan simbol-simbol
matematika yang sering terlihat dingin, abstrak, dan tidak memiliki makna dalam
keseharian mereka.
Oleh karena itu, transformasi peran guru dari seorang "pemberi
rumus" menjadi seorang "fasilitator logika" sangatlah krusial
dalam konteks perubahan zaman ini. Guru tidak lagi berperan sebagai sumber
tunggal kebenaran matematika, melainkan sebagai pemandu diskusi yang menantang
siswa untuk menjelaskan "bagaimana" dan "mengapa" mereka
sampai pada sebuah kesimpulan tertentu. Pertanyaan yang bersifat terbuka dan
memicu diskusi mengenai cara berpikir siswa jauh lebih berharga untuk
perkembangan otak mereka daripada sekadar mengumumkan siapa yang paling cepat
menjawab benar di depan kelas.
Sebagai penutup, menguasai matematika sejati berarti menguasai cara
berpikir yang jernih, objektif, dan sistematis dalam menghadapi setiap
persoalan hidup. Membiarkan anak-anak kita hanya sebatas "bisa
berhitung" tanpa kemampuan bernalar sama saja dengan memberi mereka alat
canggih tanpa pernah memberi tahu cara kerja dan tujuan penggunaan alat
tersebut. Mari kita dorong generasi muda untuk tidak hanya menjadi penghitung
yang cepat seperti mesin, tetapi menjadi pemikir yang hebat, kritis, dan solutif
melalui pendekatan numerasi yang jauh lebih bermakna dan humanis.
###
Penulis: Nur Santika
Rokhmah