REVOLUSI PEMBELAJARAN INKLUSIF: PEMANFAATAN GOOGLE TRANSLATE DAN YOUTUBE UNTUK SDGS 10
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Dalam upaya mencapai SDGs poin ke-10 mengenai pengurangan kesenjangan, sektor pendidikan Indonesia kini fokus pada penyediaan akses materi global bagi seluruh siswa tanpa hambatan bahasa. Penggunaan Google Translate yang semakin akurat memungkinkan siswa di pelosok daerah untuk menerjemahkan jurnal ilmiah dan artikel internasional dari berbagai bahasa secara instan. Teknologi ini meruntuhkan tembok pembatas informasi yang selama ini hanya bisa dinikmati oleh mereka yang menguasai bahasa asing dengan baik. Dengan akses informasi yang setara, siswa di desa memiliki peluang yang sama untuk mempelajari inovasi terbaru di dunia sains dan teknologi seperti halnya siswa di kota-kota besar.
Selain penerjemahan teks, platform YouTube telah menjadi perpustakaan audio-visual terbesar yang mendukung pembelajaran inklusif bagi siswa dengan berbagai gaya belajar. Video tutorial mengenai pemrograman, seni, hingga matematika tersedia dalam ribuan kanal edukasi yang bisa diakses kapan saja secara gratis. Guru-guru di sekolah inklusif memanfaatkan fitur teks otomatis pada video untuk membantu siswa dengan hambatan pendengaran agar tetap bisa mengikuti materi pelajaran dengan baik. Sinergi antara konten video berkualitas dan teknologi aksesibilitas ini menciptakan lingkungan belajar yang lebih ramah bagi semua kalangan, memastikan tidak ada siswa yang tertinggal dalam proses perkembangan intelektual.
Koordinasi antara guru pembimbing khusus dan orang tua dalam memantau perkembangan siswa disabilitas juga semakin efisien melalui penggunaan WhatsApp Web. Melalui platform ini, draf laporan perkembangan siswa dan materi ajar yang telah dipersonalisasi dapat dibagikan dengan cepat tanpa harus bertemu secara fisik sesering mungkin. Efisiensi komunikasi ini sangat membantu dalam menyusun strategi intervensi pendidikan yang tepat waktu bagi siswa yang membutuhkan perhatian lebih. Selain itu, grup diskusi di web memungkinkan para pendidik untuk saling berbagi metode pengajaran kreatif yang telah terbukti efektif di lapangan, menciptakan komunitas praktik yang suportif dan inovatif.
Kreativitas siswa dalam mengekspresikan diri juga semakin terwadahi dengan penggunaan platform desain Canva untuk membuat proyek-proyek sekolah yang visual. Siswa diajarkan untuk menyusun presentasi yang menarik dan mudah dipahami oleh rekan sebaya mereka, yang secara tidak langsung melatih kemampuan komunikasi dan kepercayaan diri mereka. Bagi siswa dari keluarga kurang mampu, bantuan dana dari PIP sangat krusial untuk memastikan mereka memiliki perangkat digital yang memadai guna mengakses aplikasi-aplikasi pembelajaran tersebut. Pemerintah terus berupaya agar bantuan PIP Kemendikdasmen tepat sasaran sehingga setiap anak memiliki "senjata" digital yang sama untuk bersaing di masa depan yang serba kompetitif.
Secara strategis, integrasi teknologi dalam pendidikan inklusif bukan hanya soal kemudahan teknis, melainkan tentang menegakkan keadilan sosial bagi seluruh warga negara. Kita sedang membangun fondasi bagi generasi yang lebih toleran dan memiliki empati tinggi terhadap perbedaan melalui interaksi di ruang digital yang sehat. Dengan dukungan kecerdasan buatan seperti ChatGPT sebagai tutor pendamping, setiap anak dapat belajar sesuai dengan kecepatan dan minat mereka masing-masing secara personal. Masa depan Indonesia yang maju bergantung pada seberapa mampu kita memberikan kesempatan yang adil bagi setiap talenta muda untuk bersinar tanpa terhalang oleh keterbatasan fisik maupun ekonomi.
###
Penulis: Anisa Rahmawati