Ringkasan MK Etnopedagogi Berkelanjutan di Pendidikan Dasar
Penulis: Della Octavia Citra Lestari
Etnopedagogi Berkelanjutan di Pendidikan Dasar merupakan mata kuliah yang mengembalikan pendidikan pada akar dan konteksnya. Mata kuliah ini membentuk guru yang tidak hanya sebagai penyampai kurikulum nasional, tetapi juga sebagai agen pelestari budaya dan lingkungan yang mampu menciptakan generasi penerus yang tidak tercerabut dari identitas budayanya, sekaligus peduli terhadap keberlanjutan kehidupan di masa depan. Ruang lingkupnya adalah mengeksplorasi kearifan local, baik dari segi sistem pengetahuan, nilai-nilai yang terkandung, integrasinya ke dalam kurikulum atau mata pelajaran yang ada di sekolah dasar, dan menganalisis prinsip-prinsip SDGs didalam kultur yang akan dieksplor. Dalam mata kuliah ini, saya membahas mengenai kultur yang ada di Kabupaten Jombang, yaitu Tari Remo Boletan Jombang.
Etnopedagogi Tari Remo Boletan Jombang
Tari Remo diciptakan di Desa Ceweng, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang. Awalnya, tari ini dibuat oleh seniman jalanan pada masa lalu dengan memberi tema seorang Pangeran yang gagah dan berani. Tarian ini dikenalkan sekitar tahun 1900. Pada tahun 1908 seorang bernama Santik asal Gudo, Jombang diduga sebagai aktivis pergerakan Syarekat Islam pimpinan Haji Oemar Said Tjokroaminoto yang berjuang melalui jalan ngamen dengan bedak yang tidak merata diwajahnya. Pertama kali tarian ini diperkenalkan dengan cara keliling di jalanan dan mengamen. Selanjutnya, tarian ini difungsikan dalam acara-acara tertentu, contohnya seperti pertunjukan Ludruk. Tari Remo Jombangan memiliki kharakterisik pada gerak tarian yang dipopulerkan oleh Sastro Bolet Amenan (Alm) yang gerakannya beragam yaitu sangat ekspresif, dinamik, keras lemah, patah patah, gerakan silat, kuda lumping dan tendangan sampur, karena menggambarkan perjuangan untuk membangkitkan dan mengobarkan semangat melawan penindasan terhadap rakyat, disisi lain Tari Remo diciptakan dengan tujuan ntuk memberikan teladan yang baik serta dedikasi terhadap masyarakat khususnya bagi generasi muda tentang bagaimana cara bersikap lembut dan tegas. Dikarenakan kekhasan yang ditampilkan Tari Remo yang dibawakan Pak Bolet, Tari Remo Jombangan juga sering disebut sebagai Tari Remo Boletan. Unsur-unsur tarian ini, diantaranya: 1) tata rias (riasan wajah, mata, pipi, bibir, dan alis); 2) tata busana (baju, celana, kain jarik, rompi, stagen, dan sabuk wala) dan aksesoris (selendang, udheng, binggel, dan keris); 3) tata gerak (gedrug, kipatan sampur, gandewa, ngore, rekmo, nebak bumi, tatasan, ceklekan, tranjalan,
tepisan, kencak, klepatan, telesik, dan bumi langit; dan 4) tata music.
Dalam setiap budaya, tentunya terdapat pembelajaran yang dapat diambil didalamnya. misalnya, dalam warisan budaya tarian adat Tari Remo Boletan Jombang. Ada beberapa topik mata pelajaran, yaitu: 1) Pendidikan Pancasila; 2) Bahasa Indonesia; 3) PJOK; 4) SBDP; dan 5) IPS. Adapun hasil analisis yang berkaitan dengan prinsip SDGs, yakni sebagai berikut. 1) SDGs 4: Pendidikan Berkualitas
Pro: Tari Remo dapat menjadi media pembelajaran kontekstual yang mendorong literasi budaya sejak SD, mendukung profil pelajar Pancasila.
Kontra: Belum semua sekolah memiliki guru atau fasilitas untuk mengajarkan tari tradisional. Jika tidak didukung kurikulum dan pelatihan guru, pembelajaran bisa hanya formalitas, bukan benar-benar melestarikan budaya.
2) SDGs 5: Kesetaraan Gender
Pro: Tari Remo mengajarkan menghormati peran budaya sambil mendorong partisipasi semua gender.
Kontra: Masih ada pandangan tradisional bahwa tarian tertentu lebih cocok untuk laki-laki, sehingga dapat membatasi kebebasan untuk mengekspresikan diri.
3) SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi (Ekonomi Kreatif) Pro: Tari Remo dapat membuka peluang ekonomi kreatif melalui pertunjukan seni, pariwisata, hingga event budaya di daerah, sehingga anak-anak sejak dini bisa belajar bahwa seni budaya bisa menjadi profesi dan kebanggaan.
Kontra: Belum semua seniman tradisional mendapat apresiasi ekonomi yang layak, risiko eksploitasi jika anak dimanfaatkan dalam pertunjukan komersial tanpa perlindungan. 4) SDGs 11: Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan (Melestarikan Warisan Budaya) Pro: Tari Remo mendukung pelestarian identitas budaya daerah, sejalan dengan tujuan menjaga warisan budaya tak benda. Anak SD dikenalkan pada budaya lokal sehingga tumbuh kesadaran menjaga dan melestarikan lingkungan sosial budaya.
Kontra: Globalisasi membuat minat anak pada budaya tradisional menurun, lebih tertarik budaya populer (K-Pop, TikTok dance).