Ruang Kelas Digital yang Beracun: Menata Ulang Etika Berinternet bagi Generasi Alpha
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Keberadaan
grup percakapan singkat yang awalnya dibentuk untuk memfasilitasi koordinasi
tugas sekolah sering kali bergeser fungsinya menjadi ruang kelas digital yang
beracun akibat munculnya perilaku perundungan antar siswa. Alih-alih digunakan
sebagai sarana diskusi akademik yang produktif, platform tersebut kerap
disalahgunakan untuk menyebarkan gosip, mengejek kekurangan fisik teman, hingga
melakukan pengucilan kelompok secara sistematis. Situasi ini menciptakan beban
mental tambahan bagi siswa sekolah dasar, di mana mereka merasa harus selalu
bersiaga menjaga reputasi digital mereka setiap waktu, bahkan di saat jam
istirahat atau saat mereka sedang berada di rumah.
Ketidakhadiran sosok
moderator dewasa atau guru di dalam grup-grup percakapan mandiri siswa menjadi
celah utama yang memungkinkan tumbuhnya perilaku menyimpang dan intimidasi
kolektif. Di usia sekolah dasar, anak-anak cenderung bertindak impulsif dalam mengetik
pesan yang menurut mereka lucu tanpa mampu memprediksi bagaimana perasaan objek
candaan tersebut saat membacanya. Jika perilaku ini dibiarkan tanpa teguran,
maka akan terjadi normalisasi budaya toksik di internet yang akan sangat sulit
diubah perilakunya ketika mereka beranjak ke jenjang remaja dan dewasa yang
lebih kompleks.
Analisis sosiologis
menunjukkan bahwa perundungan digital di tingkat dasar sering kali mengikuti
pola hierarki sosial di kelas yang kemudian direplikasi secara lebih kejam ke
ranah daring. Siswa yang merasa populer di sekolah cenderung menggunakan kekuatannya
di media sosial untuk menekan siswa lain yang dianggap berbeda atau memiliki
keterbatasan tertentu. Pola ini sangat merusak nilai-nilai persatuan di sekolah
dan menciptakan faksi-faksi yang saling bermusuhan, yang pada akhirnya
menghambat terciptanya lingkungan belajar yang inklusif, kolaboratif, dan
menyenangkan bagi semua anak.
Sekolah harus berani
mengambil langkah kebijakan yang tegas dan inovatif, seperti mewajibkan
keterlibatan guru atau perwakilan orang tua sebagai pembimbing di dalam
grup-grup komunikasi siswa. Selain itu, edukasi mengenai "netiket"
atau etika berinternet yang beradab harus menjadi materi yang diajarkan secara
berulang dan konsisten hingga menjadi kebiasaan yang melekat pada siswa.
Memberikan simulasi nyata tentang bagaimana sebuah pesan singkat yang jahat
dapat menghancurkan perasaan orang lain merupakan cara yang efektif untuk
membangun kematangan emosional pada anak didik.
Luka digital yang tak
terlihat dari balik layar hanya bisa disembuhkan melalui transparansi
komunikasi dan kejujuran di dalam ruang-ruang kelas nyata. Kita memiliki
tanggung jawab untuk memastikan bahwa grup-grup digital siswa adalah sarana
pertumbuhan intelektual, bukan sarana penghancuran mental antar teman sebaya
yang merusak masa depan. Dengan penanaman etika yang kuat, siswa sekolah dasar
akan mampu mengelola ruang digital mereka menjadi lingkungan yang sehat,
suportif, dan penuh dengan semangat kekeluargaan yang tulus.
###
Penulis: Nur Santika
Rokhmah