Sandiwara Akademik: Saat Nilai Sempurna Mengkhianati Hakikat Belajar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Dunia pendidikan dasar saat ini tengah terjebak dalam sebuah lingkaran setan yang sangat merusak integritas intelektual, di mana terjadi sebuah "sandiwara akademik" yang melibatkan siswa, guru, hingga orang tua. Budaya instan telah menciptakan situasi di mana siswa berpura-pura belajar dengan bantuan teknologi, sementara sistem pendidikan berpura-pura memberikan nilai pada karya-karya yang sebenarnya bukan hasil dari perjuangan nalar mandiri. Isu ini menjadi alarm keras bagi para peneliti pascasarjana untuk membedah kembali apakah sekolah masih menjadi tempat persemaian kejujuran atau telah berubah menjadi sekadar pabrik legalitas ijazah yang hampa makna.
Tekanan birokrasi dan target kurikulum yang tidak realistis seringkali memaksa siswa untuk mengambil jalan pintas digital guna memenuhi ekspektasi performa yang selalu dituntut sempurna. Ketika beban tugas tidak lagi sebanding dengan waktu yang tersedia untuk merenung, siswa cenderung mengadopsi mentalitas "yang penting selesai" daripada "yang penting paham". Ketekunan belajar lumat oleh obsesi administratif untuk selalu tampil berprestasi di atas kertas, sehingga proses internalisasi nilai-nilai keilmuan menjadi terabaikan dan digantikan oleh pencapaian kuantitatif yang tidak berkorelasi dengan kompetensi nyata.
Jika nilai angka lebih dihargai daripada rasa ingin tahu dan kejujuran dalam berproses, maka universitas kehidupan di masa depan hanya akan diisi oleh individu yang cakap secara teknis dalam memanipulasi sistem namun hampa secara moral dan etika. Pendidikan dasar seharusnya menjadi fondasi bagi pembentukan karakter integritas, namun sandiwara ini justru mengajarkan anak-anak sejak dini bahwa hasil akhir dapat diraih dengan cara-cara instan yang mengabaikan kerja keras. Hal ini menciptakan sebuah generasi yang rentan terhadap perilaku koruptif intelektual karena mereka tidak pernah belajar untuk menghargai setiap tetes keringat yang dikeluarkan dalam mencari kebenaran ilmiah.
Reformasi penilaian di ruang kelas harus segera dilakukan dengan cara memberikan ruang yang lebih luas bagi dialog humanis dan observasi proses secara kualitatif. Keberhasilan pendidikan tidak boleh lagi hanya diukur dari seberapa banyak tugas yang terkumpul atau seberapa tinggi skor ujian pilihan ganda, melainkan dari seberapa besar transformasi cara berpikir siswa dalam menghadapi kebuntuan intelektual. Pendidik harus memiliki keberanian untuk memberikan apresiasi pada siswa yang jujur dengan kegagalannya, daripada memberikan pujian pada hasil sempurna yang merupakan produk dari instruksi cerdik pada mesin kecerdasan buatan.
Analisis dari perspektif pedagogi kritis menekankan bahwa guru harus bertransformasi dari sekadar penyampai materi menjadi pengawal moral yang mampu mendeteksi ketidakjujuran akademik melalui pendekatan personal. Di era AI, orisinalitas pemikiran menjadi barang yang sangat mewah, sehingga interaksi lisan dan debat di dalam kelas menjadi instrumen validasi yang tak tergantikan oleh perangkat lunak mana pun. Hanya dengan menguji ketahanan argumen secara langsung, kita dapat memastikan bahwa siswa benar-benar memiliki kepemilikan atas ilmu pengetahuan yang mereka klaim, sekaligus memutus rantai sandiwara yang selama ini membodohi sistem pendidikan kita.
Budaya instan ini juga dipicu oleh ekosistem sosial yang memuja keberhasilan cepat tanpa mau melihat proses panjang di baliknya, sehingga siswa merasa tertekan jika harus berlama-lama dengan satu masalah. Kita perlu mengedukasi masyarakat, terutama orang tua, bahwa proses belajar yang berdarah-darah jauh lebih berharga daripada hasil akhir yang didapat dengan mudah namun tanpa pemahaman. Pendidikan harus dikembalikan fungsinya sebagai laboratorium kemanusiaan yang menghargai ketekunan sebagai mata uang moral tertinggi, di mana setiap anak belajar untuk bangga pada hasil karya mereka sendiri, betapapun sederhananya karya tersebut.
Sebagai penutup, tantangan besar bagi dosen dan praktisi pendidikan dasar adalah menghentikan sandiwara akademik ini sebelum ia menghancurkan fondasi peradaban bangsa kita secara permanen. Menjadi penjaga nalar berarti bersedia berinvestasi energi untuk memanusiakan kembali proses belajar-mengajar dan tidak menyerah pada kenyamanan administratif semu. Mari kita bangun kembali budaya sekolah yang jujur, tekun, dan berani, karena hanya di atas fondasi integritas itulah ilmu pengetahuan dapat benar-benar bermanfaat bagi kesejahteraan manusia dan kemajuan bangsa yang bermartabat.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah