Sekolah Dasar Bangun Nilai Perdamaian lewat Latihan Pesan Sopan Berbasis SDGs
s2dikdas.fip.unesa.ac.id,
Surabaya — Pembiasaan pesan sopan kini menjadi perhatian dalam komunikasi
digital. Guru mengajak siswa memahami cara menyampaikan pesan dengan santun.
Upaya ini dilakukan untuk menanamkan nilai perdamaian sejak usia dini.
Latihan
membuat pesan sopan menghadirkan cara baru bagi siswa untuk mengenal etika
berkomunikasi yang aman dan ramah. Di banyak sekolah dasar, topik tersebut
mulai diperkenalkan sebagai bagian dari pendidikan karakter yang sejalan dengan
SDGs khususnya tujuan nomor 16 tentang perdamaian dan keadilan. Fokusnya
tidak hanya pada penggunaan kata yang baik, tetapi juga bagaimana pesan mampu
menciptakan suasana saling menghargai.
Dalam
praktiknya, guru menggunakan berbagai contoh situasi sehari hari yang sering
ditemukan dalam percakapan digital. Siswa diajak membandingkan pesan yang
bernada kasar dan pesan yang lebih bersahabat untuk melihat dampaknya terhadap
hubungan sosial. Pendekatan ini membantu mereka memahami bahwa kata yang
dipilih dapat membangun kedamaian atau justru menimbulkan konflik.
Diskusi
ringan menjadi bagian penting dalam proses ini. Siswa dengan antusias berbagi
pengalaman tentang percakapan yang pernah membuat mereka merasa dihargai atau
sebaliknya. Guru kemudian mengarahkan siswa untuk menemukan pola bahasa yang
mencerminkan empati, seperti mengucapkan terima kasih, meminta izin, dan
menyampaikan pendapat tanpa menyakiti orang lain. Cara ini memperkuat pemahaman
tentang tanggung jawab sosial dalam komunikasi.
Dalam
beberapa kegiatan, siswa diminta membuat contoh pesan sopan untuk berbagai
konteks, mulai dari urusan belajar hingga interaksi antar teman. Beberapa siswa
merasa bahwa menulis pesan sopan membantu mereka lebih memahami perasaan orang
lain. Hal ini menunjukkan bahwa literasi digital dapat dikembangkan bersamaan
dengan kecakapan sosial emosional.
Konsep
perdamaian tidak hanya dibahas pada tataran teori, tetapi juga dipraktikkan
melalui kebiasaan kecil. Saat berinteraksi di grup belajar maupun chat sekolah,
siswa didorong menggunakan sapaan yang ramah dan memastikan pesan mereka tidak
menyinggung. Kebiasaan ini perlahan membentuk lingkungan komunikasi yang
inklusif dan menyenangkan.
Meskipun
sederhana, pembiasaan pesan sopan memberikan dampak yang lebih besar dari yang
dibayangkan. Kebiasaan menulis dengan santun menjadi jembatan yang memperkuat persahabatan
serta menciptakan ruang dialog yang sehat. Dari latihan kecil ini, nilai perdamaian
tumbuh bukan sebagai slogan, tetapi sebagai kebiasaan yang hadir dalam setiap
percakapan.
###
Penulis: Sevian Ageng Wahono