Sekolah Ramah Lingkungan antara Simbolisme dan Praktik Sehari-hari
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya -
Sekolah ramah lingkungan
sering ditandai oleh berbagai simbol yang merepresentasikan kepedulian terhadap
alam. Simbol tersebut hadir dalam bentuk slogan, atribut visual, maupun kegiatan
tematik yang tampak menarik. Namun simbol tidak selalu berbanding lurus dengan
perubahan perilaku. Tantangan sesungguhnya terletak pada bagaimana simbol
tersebut diterjemahkan menjadi praktik keseharian. Ketika kepedulian lingkungan
berhenti pada simbol, makna ekologis menjadi dangkal. Transformasi nilai
membutuhkan lebih dari sekadar penanda visual. Ia memerlukan proses
internalisasi yang konsisten. Dari sinilah pentingnya melihat ramah lingkungan
sebagai praktik hidup, bukan sekadar citra.
Dalam banyak konteks, simbol lingkungan berfungsi sebagai alat kampanye.
Kampanye penting untuk membangun kesadaran awal, tetapi tidak cukup untuk
membentuk kebiasaan. Individu mungkin mengenali pesan lingkungan, tetapi belum
tentu menghayatinya. Tanpa pengalaman nyata, pesan tersebut mudah dilupakan.
Tantangan utama adalah menghubungkan simbol dengan tindakan konkret. Di sinilah
praktik keseharian memainkan peran kunci.
Praktik ramah lingkungan yang berkelanjutan biasanya dimulai dari tindakan
sederhana. Tindakan tersebut sering kali tampak sepele, tetapi memiliki dampak
kumulatif yang besar. Ketika tindakan kecil dilakukan secara konsisten, ia
membentuk pola perilaku. Pola inilah yang kemudian menjadi kebiasaan. Simbol
lingkungan baru bermakna ketika ia mencerminkan pola tersebut.
Selain tindakan individu, praktik keseharian juga dipengaruhi oleh norma
sosial. Ketika norma mendukung perilaku ramah lingkungan, individu terdorong
untuk menyesuaikan diri. Norma ini terbentuk melalui interaksi dan pengulangan.
Lingkungan sosial yang konsisten memperkuat internalisasi nilai. Tanpa norma
yang mendukung, praktik sulit bertahan.
Aspek refleksi juga penting dalam menjembatani simbol dan praktik. Refleksi
membantu individu memahami alasan di balik tindakan. Tanpa refleksi, praktik
ramah lingkungan berisiko menjadi rutinitas tanpa makna. Refleksi memperdalam
kesadaran dan memperkuat komitmen. Ia mengubah tindakan menjadi pilihan sadar.
Tantangan lain adalah kecenderungan menganggap praktik ramah lingkungan
sebagai beban tambahan. Persepsi ini muncul ketika praktik tidak terintegrasi
dengan rutinitas. Ketika praktik dirancang selaras dengan keseharian, beban
tersebut berkurang. Integrasi inilah yang membuat praktik terasa alami. Ramah
lingkungan menjadi bagian dari hidup, bukan tambahan.
Pada akhirnya, sekolah ramah lingkungan diuji melalui keselarasan antara
simbol dan praktik. Simbol yang kuat tanpa praktik hanya menghasilkan citra.
Praktik yang konsisten tanpa simbol tetap menghasilkan perubahan nyata. Namun
ketika keduanya berjalan seiring, nilai ekologis menemukan bentuknya dalam
kehidupan sehari-hari.
###
Penulis: Resinta Aini Zakiyah