Sekolah Ramah Lingkungan sebagai Proses Internaliasi Nilai Ekologis
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya -
Sekolah ramah lingkungan tidak
hanya berbicara tentang tindakan, tetapi juga tentang nilai yang mendasarinya.
Nilai ekologis menjadi landasan bagi setiap perilaku ramah lingkungan. Namun
nilai tidak dapat dipaksakan secara instan. Ia membutuhkan proses internalisasi
yang berlangsung secara perlahan. Proses ini melibatkan pemahaman, pengalaman,
dan refleksi. Tanpa internalisasi, tindakan ramah lingkungan mudah kehilangan
makna. Oleh karena itu, pendekatan ramah lingkungan perlu menekankan
pembentukan nilai. Di sinilah peran penting keseharian sebagai ruang belajar
nilai.
Internalisasi nilai ekologis dimulai dari pengenalan
makna lingkungan dalam kehidupan sehari-hari. Lingkungan tidak lagi dipandang
sebagai sesuatu yang jauh dan abstrak. Ia hadir dalam aktivitas rutin dan
pengalaman langsung. Ketika individu menyadari keterkaitan tersebut, nilai
mulai tumbuh. Kesadaran ini menjadi fondasi bagi perubahan perilaku. Dari
sinilah tindakan ramah lingkungan memperoleh legitimasi moral.
Pengalaman langsung mempercepat proses internalisasi.
Nilai yang dialami cenderung lebih kuat daripada nilai yang hanya didengar.
Melalui pengalaman, individu merasakan dampak nyata dari tindakan mereka.
Dampak tersebut memicu refleksi dan evaluasi diri. Proses ini memperdalam
pemahaman nilai ekologis. Nilai tidak lagi bersifat normatif, melainkan
personal.
Selain pengalaman, dialog juga berperan dalam
internalisasi nilai. Dialog membuka ruang pertukaran perspektif dan pemaknaan.
Melalui dialog, individu menguji dan memperkaya pemahamannya. Nilai ekologis
dipahami dari berbagai sudut pandang. Proses ini membantu menghindari pemaknaan
yang sempit. Dialog memperkuat nilai melalui interaksi sosial.
Internalisasi nilai juga membutuhkan konsistensi
antara ucapan dan tindakan. Ketika terdapat keselarasan, nilai menjadi
kredibel. Ketidaksinambungan justru melemahkan proses internalisasi. Oleh
karena itu, praktik keseharian perlu mencerminkan nilai yang diusung.
Keselarasan ini menciptakan kepercayaan dan komitmen.
Refleksi berkelanjutan menjadi penguat internalisasi
nilai. Refleksi membantu menilai sejauh mana nilai telah terwujud dalam
tindakan. Ia juga membuka ruang perbaikan dan pembaruan. Tanpa refleksi, nilai
berisiko menjadi dogma. Refleksi menjaga nilai tetap hidup dan relevan.
Pada akhirnya, sekolah ramah lingkungan menemukan
kekuatannya dalam proses internalisasi nilai ekologis. Program dan aktivitas
hanyalah sarana. Nilai yang terinternalisasi akan memandu perilaku secara
mandiri. Dari sinilah kebiasaan ramah lingkungan tumbuh secara autentik dan
berkelanjutan.
###
Penulis: Resinta Aini Zakiyah