Selamat Tinggal Menghafal: Menuju Era Pendidikan Dasar yang Bermakna
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Era baru pendidikan sekolah dasar
di Indonesia ditandai dengan gerakan masif untuk meninggalkan praktik menghafal
tanpa makna dan beralih ke pembelajaran yang berorientasi pada pemecahan
masalah. Perubahan ini krusial untuk menghapus trauma belajar yang telah
menghambat perkembangan kognitif jutaan siswa selama bertahun-tahun. Dengan menekankan
pemahaman mendalam, sekolah diharapkan bertransformasi menjadi lingkungan yang
mendukung rasa ingin tahu, bukan justru mematikannya dengan tugas-tugas
repetitif yang membosankan.
Kritik terhadap metode
hafalan berfokus pada sifatnya yang pasif, di mana siswa hanya berperan sebagai
"perekam" informasi tanpa kemampuan mengolahnya. Hal ini
mengakibatkan lulusan SD sering kali kesulitan ketika dihadapkan pada situasi
yang membutuhkan analisis mandiri di jenjang yang lebih tinggi. Sebaliknya,
kemampuan pemecahan masalah melatih siswa sejak dini untuk kritis, skeptis
terhadap informasi yang meragukan, dan gigih dalam mencari jawaban.
Karakter-karakter inilah yang akan menghapus trauma kegagalan karena siswa
diajarkan bahwa proses sama berharganya dengan hasil.
Dampak positif dari
transisi ini juga dirasakan pada penurunan tingkat stres di kalangan siswa dan
orang tua. Belajar di rumah tidak lagi menjadi ajang "paksaan" untuk
menghafal definisi, melainkan diskusi mengenai bagaimana menyelesaikan tugas-tugas
proyek sekolah. Suasana belajar yang lebih santai namun produktif ini
memperkuat kesehatan mental keluarga dan membangun persepsi positif anak
terhadap ilmu pengetahuan. Menghapus trauma belajar berarti memperbaiki
kualitas hidup anak-anak kita secara keseluruhan.
Guru didorong untuk
merancang soal-soal ujian yang bersifat terbuka (open-ended questions)
yang tidak memiliki satu jawaban benar yang mutlak. Pendekatan ini sangat
efektif untuk menghapus ketakutan akan salah, karena setiap argumen yang logis
akan mendapatkan apresiasi. Saat siswa tidak lagi takut salah, mereka akan
lebih berani bereksperimen, yang merupakan inti dari inovasi. Inilah revolusi
mental yang sebenarnya di dalam ruang kelas sekolah dasar.
Transformasi dari hafalan
ke pemecahan masalah adalah langkah berani yang harus didukung penuh oleh
kebijakan nasional yang konsisten. Mutu pendidikan tidak diukur dari seberapa
banyak fakta yang diingat siswa, tetapi dari seberapa baik mereka menggunakan
ilmu tersebut untuk memperbaiki keadaan. Mari kita tinggalkan beban masa lalu
dan melangkah menuju pendidikan dasar yang memberdayakan, membebaskan, dan
benar-benar mencerdaskan kehidupan bangsa.
###
Penulis: Nur Santika
Rokhmah