Semarak Natal di Sekolah Dasar: Mengajarkan Toleransi dan Kebhinekaan Sejak Dini
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Suasana bulan Desember di berbagai sekolah dasar di Indonesia diwarnai dengan semangat toleransi yang tinggi, di mana perayaan Natal menjadi momentum penting untuk mengajarkan nilai-nilai kebhinekaan kepada para siswa. Sesuai dengan semangat Profil Pelajar Pancasila, sekolah-sekolah dasar, terutama yang memiliki latar belakang siswa majemuk, menyelenggarakan kegiatan yang memupuk rasa saling menghormati antarumat beragama. Meskipun tidak semua siswa merayakan, teman-teman mereka diajarkan untuk memberikan ucapan selamat dan menghargai perayaan Natal sebagai bagian dari kekayaan budaya dan agama bangsa Indonesia, menanamkan bibit persaudaraan sejak usia belia.
Dalam implementasi Kurikulum Merdeka, tema-tema hari besar keagamaan seperti Natal seringkali diangkat dalam proyek penguatan profil pelajar Pancasila (P5) dengan topik Bhinneka Tunggal Ika. Guru mengajak siswa untuk memahami makna damai dan kasih sayang yang menjadi pesan universal Natal, lalu mendiskusikan bagaimana nilai-nilai tersebut dapat diterapkan dalam pergaulan sehari-hari di sekolah, seperti tidak membully teman, saling meminjamkan alat tulis, dan membantu teman yang kesulitan belajar. Pendekatan ini mengubah perayaan agama dari sekadar ritual kelompok tertentu menjadi sarana pembelajaran nilai kemanusiaan bagi seluruh warga sekolah.
Dekorasi sederhana bertema Natal yang dibuat oleh siswa secara gotong royong juga terlihat di beberapa sudut kelas sekolah dasar, menampilkan kreativitas anak-anak dalam mengolah bahan daur ulang menjadi ornamen yang indah. Aktivitas kolaboratif ini tidak memandang latar belakang agama siswa; semua terlibat dalam proses penciptaan karya seni tersebut dengan riang gembira. Hal ini secara efektif meruntuhkan sekat-sekat perbedaan dan mengajarkan siswa bahwa keberagaman adalah sebuah keindahan yang harus dirayakan bersama, bukan alasan untuk perpecahan atau permusuhan.
Sekolah juga mengundang tokoh agama atau orang tua siswa yang merayakan Natal untuk berbagi cerita mengenai tradisi keluarga mereka saat hari raya, memberikan wawasan lintas budaya yang autentik bagi para siswa. Cerita tentang berbagi kue, berkumpul bersama keluarga besar, dan menyanyikan lagu-lagu gembira memberikan gambaran konkret kepada anak-anak tentang sukacita Natal. Pendidikan dasar yang inklusif semacam ini sangat vital untuk mencegah tumbuhnya benih-benih intoleransi dan radikalisme, memastikan bahwa generasi penerus bangsa memiliki wawasan kebangsaan yang luas dan hati yang terbuka.
Pada akhirnya, perayaan Natal di lingkungan pendidikan dasar bukan bertujuan untuk mencampuradukkan akidah, melainkan untuk membangun jembatan pemahaman dan empati antar sesama anak bangsa. Dengan menyaksikan dan menghormati perayaan agama teman sekelasnya, siswa belajar menjadi warga negara yang demokratis dan toleran. Pendidikan toleransi yang dimulai dari bangku sekolah dasar ini diharapkan akan melahirkan masyarakat Indonesia yang harmonis, damai, dan saling mendukung dalam keberagaman di masa depan.
###
Penulis: Maulidia Evi Aprilia