Sinergi Sekolah dan Orang Tua dalam Menjaga Mentalitas Anak
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Sinergi yang harmonis antara sekolah dan orang tua merupakan kunci utama yang menentukan keberhasilan penjagaan mentalitas anak usia sekolah dasar secara berkelanjutan. Kedua institusi ini harus memiliki kesamaan visi dan persepsi mengenai pentingnya kesehatan jiwa di atas segala pencapaian akademik yang bersifat kuantitatif. Tanpa adanya sinkronisasi pola asuh dan pola ajar, anak akan mengalami kebingungan nilai yang dapat memicu ketidakstabilan emosional dalam keseharian mereka. Kerja sama ini harus dibangun di atas landasan kepercayaan, keterbukaan informasi, dan komitmen bersama untuk mengutamakan kepentingan terbaik bagi tumbuh kembang anak. Oleh karena itu, penguatan kemitraan antara sekolah dan rumah adalah prasyarat mutlak bagi terciptanya ekosistem pendukung kesehatan mental yang kuat.
Bentuk nyata dari sinergi ini dapat diimplementasikan melalui program parenting rutin yang membahas isu-isu terkini mengenai dinamika psikologis anak di era digital. Sekolah dapat mengundang pakar kesehatan mental untuk memberikan edukasi kepada wali murid mengenai cara mendeteksi gangguan kecemasan dan stres pada anak. Sebaliknya, orang tua harus proaktif memberikan informasi kepada pihak sekolah mengenai perubahan kondisi emosional anak yang terjadi di lingkungan domestik keluarga. Pertukaran data yang intensif namun tetap terjaga privasinya akan memungkinkan kedua pihak untuk memberikan penanganan yang konsisten bagi kebutuhan mental siswa. Dengan adanya kesepahaman ini, setiap tindakan intervensi yang dilakukan akan memiliki dampak yang jauh lebih efektif dan merata bagi semua pihak.
Pihak sekolah perlu menyediakan kanal komunikasi yang mudah diakses dan responsif bagi orang tua untuk mendiskusikan kekhawatiran mereka mengenai kesehatan jiwa sang anak. Forum-forum diskusi informal antara guru dan wali murid dapat menjadi sarana untuk membangun komunitas yang saling mendukung dan peduli pada isu kesehatan mental. Sering kali permasalahan yang dialami siswa di sekolah berakar dari kondisi di rumah, begitu pula sebaliknya, sehingga penanganan harus dilakukan secara simultan. Sekolah juga dapat melibatkan orang tua dalam kegiatan-kegiatan sekolah yang bertujuan untuk meningkatkan kelekatan emosional antara anak dan orang dewasa di sekitarnya. Keterlibatan aktif keluarga dalam ekosistem sekolah akan memberikan rasa aman dan dukungan moral yang luar biasa bagi perkembangan mentalitas anak bangsa.
Selain dukungan moral, sinergi ini juga mencakup komitmen untuk tidak memberikan beban berlebihan kepada anak demi gengsi sekolah maupun ambisi pribadi orang tua. Perlu adanya kesepakatan mengenai durasi waktu belajar dan waktu istirahat agar anak tetap memiliki waktu yang cukup untuk berekreasi dan menjaga kesehatan jiwanya. Penegakan disiplin di sekolah dan di rumah harus dilakukan dengan pendekatan yang sama-sama berlandaskan pada cinta kasih dan prinsip-prinsip positif. Penghapusan segala bentuk hukuman fisik dan intimidasi verbal dalam mendidik anak adalah syarat mati yang harus dipatuhi oleh kedua pihak tanpa pengecualian. Dengan kerja sama yang solid, kita sedang membangun jaring pengaman yang akan melindungi anak dari berbagai potensi kerusakan mental di masa mendatang.
Sebagai penutup, sinergi antara sekolah dan orang tua adalah modal sosial yang sangat berharga untuk menciptakan generasi emas Indonesia yang sehat lahir dan batin. Kita harus menyadari bahwa mendidik anak adalah tanggung jawab bersama yang memerlukan kerendahan hati untuk saling belajar dan berkolaborasi secara positif. Tidak ada pihak yang paling benar dalam hal pengasuhan, karena setiap anak unik dan memerlukan pendekatan yang spesifik sesuai dengan kondisi mentalnya masing-masing. Mari kita pererat tali kerja sama demi memastikan bahwa setiap anak Indonesia tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih sayang dan dukungan kesehatan mental. Dengan sinergi yang kuat, kita sedang membangun masa depan peradaban bangsa yang lebih tangguh, bahagia, dan berintegritas tinggi di mata dunia.
###
Penulis : Kartika Natasya Kusuma Supardi.