Sinergi Sekolah dan Rumah: Program Karakter Dianggap Gagal Tanpa Dukungan Orang Tua
Program pendidikan karakter yang dirancang sekolah se-ideal apapun terancam sia-sia jika tidak ada kesinambungan di lingkungan rumah. Para ahli pendidikan secara tegas menyatakan bahwa keberhasilan pembentukan akhlak anak sangat bergantung pada sinergi dan konsistensi antara nilai yang diajarkan di sekolah dengan pola asuh yang diterapkan orang tua. Ketika sekolah mengajarkan kejujuran, namun anak melihat orang tuanya berbohong dalam keseharian, maka pelajaran di sekolah akan luntur seketika.
Kesenjangan nilai ini menciptakan kebingungan pada anak dan membuat proses internalisasi karakter menjadi tidak efektif. Oleh karena itu, sekolah-sekolah yang progresif kini tidak hanya fokus pada siswa, tetapi juga aktif merangkul orang tua melalui program parenting, seminar, dan kelompok diskusi. Tujuannya adalah untuk menyamakan persepsi dan strategi dalam menanamkan nilai-nilai fundamental seperti sopan santun, tanggung jawab, dan empati.
Tantangan terbesarnya adalah tingkat kesadaran dan keterlibatan orang tua yang beragam. Banyak orang tua yang karena kesibukan bekerja menyerahkan sepenuhnya pendidikan karakter anak kepada sekolah. Menjembatani kesenjangan komunikasi dan membangun kepercayaan agar orang tua mau menjadi mitra aktif adalah pekerjaan rumah yang tidak mudah bagi pihak sekolah.
Pada akhirnya, kemitraan strategis antara sekolah dan rumah adalah kunci yang tidak bisa ditawar. Anak menghabiskan lebih banyak waktu di luar jam sekolah, menjadikan lingkungan keluarga sebagai arena pembentukan karakter yang paling dominan. Hanya dengan kerja sama yang solid, di mana rumah dan sekolah saling menguatkan, sebuah ekosistem pendidikan karakter yang kokoh dapat benar-benar terwujud.