Standar Ganda Sekolah Ramah Anak: Antara Akreditasi dan Realitas Trauma
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Tagar
#SekolahRamahAnak seringkali hanya menjadi pemanis di berbagai platform media
sosial sekolah, namun video viral tangisan siswa SD karena PR memberikan
realitas yang sangat kontradiktif. Banyak sekolah mengejar predikat "Ramah
Anak" hanya untuk memenuhi syarat formalitas akreditasi tanpa benar-benar
melakukan perubahan substansial pada budaya belajar. Fakta bahwa anak-anak
merasa terancam secara emosional oleh beban tugas membuktikan adanya
kesenjangan lebar antara kebijakan di atas kertas dengan praktik nyata.
Kritik tajam muncul dari
pengamat pendidikan yang melihat bahwa kurikulum saat ini terlalu padat konten
sehingga memaksa guru mengambil jalan pintas melalui PR. Guru merasa terbebani
oleh target administratif, dan beban itu akhirnya "ditumpahkan" ke
pundak siswa melalui tugas-tugas yang seringkali tidak esensial. Dampaknya, hak
anak untuk mendapatkan perlindungan dari tekanan psikis—dalam bentuk beban
belajar berlebih—seringkali terabaikan demi mengejar angka-angka rapor.
Sekolah ramah anak tidak
boleh hanya diukur dari ketersediaan fasilitas fisik yang aman, tetapi juga
dari bagaimana kurikulum tersebut disampaikan tanpa menimbulkan trauma. Trauma
akademik pada usia SD adalah luka yang sulit sembuh; ia dapat memicu kebencian
terhadap sekolah yang bertahan hingga dewasa. Jika sebuah institusi pendidikan
masih membiarkan siswanya menangis karena ketakutan akan tugas, maka label
"ramah anak" yang disandangnya perlu dipertanyakan legalitas dan
moralitasnya.
Ada semacam standar ganda
di mana sekolah menuntut kreativitas anak, namun di sisi lain memberikan
tugas-tugas yang membunuh kreativitas tersebut melalui pengulangan soal yang
membosankan. Pendidikan yang ramah seharusnya menghargai proses unik setiap individu,
bukan menyeragamkan beban tanpa melihat kapasitas mental anak yang
berbeda-beda. Standar ganda ini harus diakhiri dengan melakukan reformasi pada
cara guru memberikan evaluasi harian.
Seringkali sekolah merasa
sukses jika nilai rata-rata siswanya tinggi, padahal nilai tersebut dicapai
melalui stres kolektif di tingkat keluarga. Keberhasilan yang dibangun di atas
penderitaan mental siswa adalah keberhasilan semu yang tidak akan membawa
dampak positif bagi kemajuan bangsa dalam jangka panjang. Sekolah ramah anak
yang sejati adalah sekolah yang mampu menjaga "nyala api"
keingintahuan siswa agar tidak padam oleh guyuran air mata beban tugas.
Pihak otoritas pendidikan
harus melakukan audit mendalam terhadap pelaksanaan Sekolah Ramah Anak yang
bukan hanya sekadar administratif. Penilaian harus melibatkan testimoni jujur
dari siswa mengenai tingkat stres dan beban belajar mereka sehari-hari. Hanya
dengan mendengar suara anak, kita bisa mengetahui apakah sebuah sekolah
benar-benar tempat yang aman secara psikologis bagi mereka untuk tumbuh dan
berkembang.
Mari kita dorong
transparansi dan akuntabilitas dalam penerapan konsep ramah anak di setiap
satuan pendidikan. Jangan biarkan slogan-slogan indah di dinding sekolah
menjadi ironi bagi tangisan anak-anak di meja belajar mereka. Sudah saatnya
pendidikan kita benar-benar berpihak pada anak, karena mereka adalah manusia
yang memiliki hak untuk bahagia, bukan sekadar objek untuk mengejar angka
akreditasi sekolah.
###
Penulis: Nur Santika
Rokhmah