Strategi Coping dan Resiliensi Membekali Siswa dengan Keterampilan Menghadapi Tekanan Sosial
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Strategi coping dan resiliensi merupakan kompetensi psikologis fundamental yang harus diajarkan kepada siswa sekolah dasar guna membekali mereka dengan keterampilan menghadapi berbagai tekanan sosial di lingkungannya. Tekanan sosial dapat berasal dari ekspektasi teman sebaya, tuntutan prestasi akademik yang tinggi, hingga pengaruh tren media sosial yang sering kali tidak realistis bagi perkembangan usia anak. Resiliensi memungkinkan siswa untuk tidak hanya bertahan dalam situasi sulit, tetapi juga bangkit kembali dengan kekuatan mental yang lebih besar dan pemahaman diri yang lebih dalam. Pendidikan harus mampu mentransformasi tantangan menjadi peluang belajar bagi siswa untuk mengasah kemampuan pemecahan masalah dan regulasi emosi secara efektif dan berkelanjutan. Oleh karena itu, kurikulum kesehatan mental di sekolah dasar perlu memberikan porsi yang cukup bagi pengembangan kecakapan hidup yang berbasis pada ketahanan jiwa manusia.
Implementasi strategi coping dapat dilakukan melalui pengenalan teknik-teknik manajemen stres yang sederhana seperti latihan pernapasan dalam, jurnalisme emosi, dan visualisasi positif di dalam kelas harian. Guru berperan sebagai fasilitator yang membimbing siswa untuk mengenali pemicu stres mereka dan mencari cara-cara sehat untuk mengekspresikan perasaan tersebut secara jujur dan terbuka. Pembiasaan berpikir positif dan realistis membantu siswa dalam mengelola rasa kecewa saat mengalami kegagalan akademik maupun penolakan sosial dalam dinamika pergaulan mereka di sekolah dasar. Melalui simulasi situasi sosial yang menantang, siswa diajak untuk berlatih berkomunikasi asertif dan menetapkan batasan pribadi yang sehat guna melindungi kesejahteraan mental mereka masing-masing. Penanaman karakter tangguh ini akan mengurangi risiko gangguan kecemasan dan perilaku menyimpang pada anak akibat ketidaksiapan mental dalam menghadapi dinamika kehidupan yang kian kompetitif.
Resiliensi juga tumbuh subur dalam lingkungan sekolah yang mengedepankan budaya saling mendukung atau peer support antar-sesama siswa dalam setiap aktivitas pendidikan yang dilakukan bersama. Siswa diajarkan untuk saling menguatkan saat ada teman yang mengalami kesulitan, sehingga tercipta ikatan sosial yang kuat sebagai jaring pengaman emosional kolektif di sekolah. Dukungan sosial yang positif terbukti menjadi faktor pelindung utama dalam menjaga kesehatan mental individu dari dampak buruk stresor lingkungan yang kian kompleks dan sangat dinamis. Sekolah perlu merancang program mentor teman sebaya di mana siswa yang lebih senior dapat memberikan bimbingan dan inspirasi bagi adik kelasnya dalam hal ketahanan mental. Budaya sekolah yang humanis akan menghasilkan generasi yang tidak hanya pintar secara kognitif, tetapi juga memiliki keteguhan hati dalam menghadapi setiap rintangan perjalanan hidup mereka kelak.
Selain peran sekolah, peran keluarga sangat krusial dalam membangun fondasi resiliensi anak melalui pemberian kasih sayang yang stabil dan pola asuh yang memberdayakan setiap waktu. Orang tua perlu memberikan ruang bagi anak untuk mencoba hal-hal baru dan memberikan dukungan moral saat anak menghadapi tantangan yang menguras energi mental dan fisiknya. Komunikasi yang terbuka antara anak dan orang tua mengenai pengalaman harian di sekolah akan membantu anak dalam memproses emosinya secara lebih sehat dan terarah. Sinergi antara stimulasi resiliensi di sekolah dan di rumah akan menciptakan karakter anak yang mandiri, percaya diri, dan memiliki integritas yang tinggi dalam bertindak. Pemerintah harus memberikan perhatian pada pengarusutamaan isu resiliensi dalam kebijakan pendidikan nasional tahun 2026 demi mencetak generasi emas yang tahan banting secara intelektual dan emosional.
Secara garis besar, membekali siswa dengan strategi coping dan resiliensi adalah bentuk investasi jangka panjang bagi kesehatan mental bangsa Indonesia di kancah global yang penuh ketidakpastian. Kita ingin melahirkan lulusan pendidikan dasar yang tidak hanya mahir menjawab soal ujian, tetapi juga mahir mengelola tantangan hidup dengan penuh kebijaksanaan dan keberanian moral. Pendidikan adalah proses pemerdekaan jiwa, dan resiliensi adalah kunci untuk menjaga kemerdekaan tersebut di tengah tekanan zaman yang kian berat setiap tahunnya. Mari kita bangun sistem pendidikan yang menguatkan hati dan mencerahkan pikiran demi kejayaan masa depan anak-anak nusantara yang sangat kita cintai dan banggakan. Generasi yang resilien adalah jaminan bagi keberlangsungan peradaban bangsa yang maju, adil, dan bermakna bagi seluruh rakyat Indonesia tercinta.
###
Penulis : Kartika Natasya Kusuma Supardi.