Studi Kasus Sukses Vokasi: Menghubungkan Sekolah dan Industri Melalui Dual System
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Kesenjangan antara keterampilan lulusan sekolah vokasi (SMK) dengan kebutuhan dunia kerja seringkali menjadi penghambat utama penyerapan tenaga kerja. Untuk mengatasi hal ini, model Dual System yang mengintegrasikan pembelajaran di sekolah dan praktik kerja intensif di industry semakin diperkuat sebagai strategi kunci dalam revitalisasi pendidikan vokasi. Pendekatan ini bertujuan menciptakan lulusan yang siap pakai dan relevan sejak hari pertama bekerja.
Inti Dual System: Praktik Lebih Dominan dari
Teori
Model Dual System, yang banyak diadaptasi dari
praktik terbaik di negara maju, menetapkan bahwa porsi pembelajaran praktik di
lingkungan industri harus lebih besar, bahkan mencapai 60-70% dari total waktu
belajar. Siswa SMK tidak hanya magang, tetapi menjadi bagian integral dari
proses produksi, diawasi oleh mentor industri yang berpengalaman. Hal ini
memastikan siswa menguasai teknologi
terkini dan standar kualitas
yang digunakan oleh perusahaan.
Kemitraan Strategis dan Kurikulum Bersama
Keberhasilan Dual System sangat bergantung
pada kemitraan yang kuat antara sekolah dan industri. Perusahaan tidak hanya
menyediakan tempat praktik, tetapi juga terlibat aktif dalam:
1.
Penyusunan
Kurikulum: Memastikan materi ajar sesuai dengan kompetensi yang
dibutuhkan pasar.
2. Penyediaan
Fasilitas: Mendukung sekolah dengan donasi peralatan atau software
standar industri.
3. Sertifikasi
Ganda: Lulusan mendapatkan ijazah sekolah dan sertifikat kompetensi yang
diakui oleh industri.
Dampak pada Daya Serap Lulusan
Data menunjukkan, SMK yang menerapkan Dual
System dengan mitra industri strategis memiliki tingkat penyerapan kerja
lulusan yang jauh lebih tinggi bahkan banyak siswa direkrut sebelum lulus.
Program ini secara efektif mengurangi waktu tunggu kerja dan meningkatkan
kepercayaan industri terhadap kualitas lulusan vokasi.
Dual System adalah masa depan pendidikan
vokasi. Ini adalah investasi jangka panjang yang menguntungkan tiga pihak:
siswa mendapatkan keterampilan kerja nyata, sekolah meningkatkan relevansi
kurikulum, dan industri mendapatkan calon karyawan yang terlatih. Kolaborasi
berkelanjutan antara pemerintah, dunia usaha, dan sekolah menjadi prasyarat
mutlak untuk menyukseskan model pembelajaran yang transformatif ini.
Penulis : Reynaldo Hari Prastiyo