Surabaya dalam Perang Cuaca: Pentingnya Literasi Ekologis sejak Pendidikan Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Fenomena yang kerap disebut sebagai “perang cuaca” di Surabaya yakni kondisi cuaca yang tidak menentu, gelombang panas yang meningkat, dan hujan ekstrem yang datang tiba-tiba menjadi realitas baru yang memengaruhi kehidupan masyarakat, termasuk anak-anak sekolah dasar. Situasi ini tidak hanya menimbulkan risiko kesehatan, tetapi juga menandakan kerusakan ekosistem akibat urbanisasi masif, polusi, dan berkurangnya ruang hijau. Di tengah kondisi tersebut, literasi ekologis menjadi kebutuhan mendesak yang harus diajarkan sejak dini. Literasi ekologis tidak hanya mencakup pengetahuan tentang alam, tetapi juga kemampuan memahami hubungan sebab-akibat antara perilaku manusia dan kondisi lingkungan. Dengan bekal literasi ekologis, siswa dapat mengembangkan kesadaran dan sikap yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan di sekitarnya.
Pendidikan dasar memiliki peluang besar untuk menjadi fondasi pembentukan literasi ekologis bagi generasi muda Surabaya. Anak-anak berada pada tahap perkembangan kognitif yang memungkinkan mereka belajar melalui pengalaman langsung, sehingga konsep ekologi dapat ditanamkan secara konkret dan menyenangkan. Guru dapat memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai laboratorium hidup, misalnya melalui pengamatan suhu harian, pertumbuhan tanaman, atau pola cuaca lokal. Aktivitas sederhana seperti menyiapkan kebun sekolah, kegiatan memilah sampah, atau membuat poster perubahan iklim dapat membantu siswa memahami bagaimana tindakan kecil dapat memengaruhi keseimbangan lingkungan. Melalui pembelajaran semacam ini, literasi ekologis tidak hanya menjadi teori, tetapi terinternalisasi dalam perilaku sehari-hari.
Di Surabaya, suhu kota yang meningkat akibat urban heat island dan minimnya ruang hijau merupakan tantangan besar sekaligus peluang pembelajaran. Guru dapat menjadikan fenomena ini sebagai bahan diskusi kelas tentang bagaimana kota berkembang dan apa dampaknya terhadap iklim mikro. Pengalaman nyata seperti berjalan di area teduh versus area penuh beton dapat menjadi ilustrasi langsung bagaimana alam merespons perubahan lingkungan. Dengan demikian, siswa dapat menghubungkan pelajaran dengan realitas kota mereka sendiri, bukan hanya konsep global yang terasa jauh. Pendekatan kontekstual seperti ini terbukti meningkatkan pemahaman dan kepedulian ekologis siswa sekolah dasar.
Literasi ekologis juga dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum melalui pendekatan lintas disiplin. Pelajaran sains dapat mengajarkan siklus air dan polusi udara, sementara pelajaran IPS dapat mengangkat isu pembangunan kota dan tantangannya. Bahkan mata pelajaran Bahasa Indonesia dapat berkontribusi melalui kegiatan membaca cerita bertema lingkungan atau menulis refleksi tentang fenomena cuaca ekstrem. Kolaborasi semacam ini membuat pendidikan ekologis lebih holistik dan relevan dengan kehidupan siswa. Ketika berbagai mata pelajaran bergerak bersama, pesan tentang pentingnya menjaga lingkungan menjadi lebih kuat dan mudah diingat.
Selain aspek kurikulum, lingkungan sekolah juga berperan penting dalam menanamkan literasi ekologis. Sekolah dapat menciptakan ruang belajar yang lebih ramah lingkungan melalui penghijauan, program bank sampah, atau inisiatif pengurangan penggunaan plastik. Kegiatan-kegiatan ini bukan hanya simbolis, tetapi menjadi bentuk pembelajaran ekologis yang bersifat partisipatif. Ketika siswa melihat bahwa sekolahnya menjadi model perilaku ramah lingkungan, mereka akan lebih mudah mengadopsi kebiasaan serupa di rumah maupun komunitas. Lingkungan sekolah yang mendukung dapat membangun budaya ekologis yang bertahan dalam jangka panjang.
Pada akhirnya, literasi ekologis di sekolah dasar di Surabaya merupakan investasi jangka panjang untuk menghadapi perang cuaca yang semakin nyata. Kota besar seperti Surabaya membutuhkan generasi yang tidak hanya paham teknologi, tetapi juga peka terhadap kerusakan lingkungan dan mampu mengambil tindakan preventif. Pendidikan ekologis memungkinkan siswa melihat diri mereka sebagai bagian dari solusi, bukan sekadar korban perubahan cuaca. Melalui sinergi antara guru, sekolah, pemerintah, dan keluarga, literasi ekologis dapat menjadi gerakan kolektif yang memulihkan hubungan manusia dengan alam. Jika langkah ini dimulai sejak pendidikan dasar, maka masa depan Surabaya akan dipandu oleh generasi yang lebih sadar, lebih tangguh, dan lebih berdaya menghadapi tantangan ekologis.
Penulis: Aida Meilina Sumber: images.google.com