Surabaya dan Perang Cuaca: Saat Kosmosentrisme Menjadi Kompas Kehidupan Perkotaan
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Fenomena yang sering disebut sebagai “perang cuaca” di Surabaya ketika cuaca ekstrem, perubahan pola hujan, dan panas berlebih saling bergantian secara tidak terduga menjadi gambaran nyata bahwa relasi manusia dengan alam sedang berada pada titik kritis. Kondisi ini bukan hanya persoalan meteorologi, tetapi juga krisis ekologi yang mencerminkan disharmoni antara aktivitas manusia dan tatanan kosmos. Dalam situasi seperti ini, kosmosentrisme menawarkan lensa filosofis untuk memahami kembali posisi manusia dalam jejaring kehidupan. Pendekatan ini menempatkan manusia bukan sebagai penguasa alam, melainkan bagian dari sistem kosmik yang saling bergantung. Dengan memahami hal ini, Masyarakat terutama generasi muda didorong untuk membaca fenomena cuaca ekstrem bukan sebagai musuh, tetapi sebagai sinyal dari alam yang perlu ditafsirkan dengan bijak.
Di Surabaya, cuaca ekstrem telah memberikan dampak langsung pada kehidupan Masyarakat mulai dari banjir tiba-tiba, gelombang panas yang melelahkan, hingga perubahan pola penyakit. Fenomena ini tidak dapat dilepaskan dari urbanisasi masif, hilangnya ruang hijau, dan aktivitas industri yang meningkatkan suhu mikro dan polusi. Dalam konteks inilah kosmosentrisme menjadi relevan, karena ia mengingatkan bahwa setiap gangguan terhadap keseimbangan kosmos akan kembali kepada manusia dalam bentuk gangguan ekologis. Melalui cara pandang kosmosentris, masyarakat diajak melihat bahwa cuaca ekstrem bukan sekadar “bencana alam,” tetapi manifestasi dari ketidakseimbangan yang melibatkan manusia sebagai penyebab sekaligus korban. Kesadaran ini penting sebagai titik awal perubahan perilaku kolektif.
Menerjemahkan kosmosentrisme dalam respons terhadap perubahan cuaca Surabaya memerlukan pendekatan pendidikan dan budaya. Pendidikan dasar dapat menjadi ruang pengenalan awal bagi siswa untuk memahami bagaimana cuaca, lingkungan, dan aktivitas manusia saling terhubung. Guru dapat mengajak siswa mengamati perubahan suhu harian, menanam pohon di sekolah, atau membuat jurnal iklim kecil sebagai bentuk literasi ekologis. Aktivitas ini memperlihatkan bahwa cuaca bukan fenomena abstrak, tetapi bagian dari ritme kosmos yang dapat dipelajari dan dihormati. Dengan cara ini, nilai-nilai kosmosentris tidak hanya dipahami secara teoritis, tetapi dihidupi melalui pengalaman belajar langsung.
Dalam perspektif kosmosentris, kebijakan kota pun harus bergerak menuju harmonisasi dengan tatanan alam. Di Surabaya, upaya seperti revitalisasi taman kota, pengembangan kawasan hijau, dan sistem pengendalian banjir dapat dilihat sebagai langkah awal untuk memulihkan keseimbangan ekologis. Namun pendekatan kosmosentris menuntut lebih dari sekadar solusi teknis; ia mendorong adanya perubahan budaya yang memandang alam sebagai mitra, bukan sumber daya yang habis pakai. Tata kota, sistem transportasi, hingga pola pembangunan harus mempertimbangkan dinamika kosmik dan daya dukung lingkungan. Tindakan-tindakan tersebut mencerminkan penghormatan terhadap keterhubungan antara manusia, ruang fisik, dan alam semesta.
Lebih jauh lagi, masyarakat Surabaya dapat mempraktikkan kosmosentrisme melalui gerakan komunitas. Komunitas warga dapat membuat program mitigasi cuaca ekstrem seperti bank pohon, urban farming, atau kampanye pengurangan sampah plastik yang berkontribusi pada penurunan suhu kota. Aktivitas kolektif ini menunjukkan bahwa harmonisasi kosmos tidak tercipta melalui kebijakan top-down saja, tetapi melalui tindakan komunitas yang konsisten. Dalam kerangka kosmosentris, setiap tindakan kecil menanam satu pohon, menghemat air, atau mengurangi emisi memiliki makna kosmik karena berkontribusi pada keseimbangan besar. Pendidikan publik tentang pentingnya hubungan manusia alam harus diperluas melalui ruang komunitas, media lokal, dan lembaga sosial.
Pada akhirnya, penerjemahan kosmosentrisme di tengah perang cuaca di Surabaya bukan sekadar wacana filosofis, tetapi ajakan untuk mengubah cara hidup. Ketika cuaca menjadi medan konflik antara aktivitas manusia dan respons alam, kosmosentrisme mengingatkan bahwa konflik itu hanya dapat diakhiri melalui pemulihan hubungan harmonis. Surabaya, sebagai kota besar yang terus berkembang, memiliki peluang untuk menjadi laboratorium hidup bagi model pembangunan yang kosmosentris dan berkelanjutan. Melalui pendidikan, kebijakan kota, dan partisipasi komunitas, konsep ini dapat diwujudkan dalam berbagai praktik nyata. Jika manusia mampu melihat dirinya sebagai bagian dari kosmos, maka cuaca ekstrem bukan lagi musuh, melainkan pengingat bahwa keseimbangan harus selalu diperjuangkan.
Penulis: Aida Meilina Sumber: images.google.com