Surah Al-Isra: Mentransformasi Pembelajaran Matematika dengan Nilai-nilai Islami
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Pernahkah terbayangkan bahwa pembelajaran matematika di sekolah dasar dapat diintegrasikan dengan ayat-ayat Al-Qur'an secara mendalam? Penelitian yang dilakukan oleh Usis Khoirida dan Neni Mariana dari Universitas Negeri Surabaya membuka perspektif baru tentang transformasi konteks pemecahan masalah matematika melalui eksplorasi Surah Al-Isra. Penelitian ini berangkat dari pengalaman peneliti yang menemukan fakta menarik: tidak ada perbedaan signifikan dalam penyampaian konsep matematika antara sekolah dasar negeri dengan sekolah dasar berbasis Islam. Lebih jauh lagi, peneliti merasakan kurangnya penanaman nilai moral dalam pembelajaran matematika di sekolah dasar, padahal matematika seharusnya tidak hanya mengembangkan ranah kognitif, tetapi juga ranah afektif dan psikomotor siswa.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif transformatif dengan tiga metode pengumpulan data yang unik: narrative writing, studi literatur, dan wawancara dengan guru-guru sekolah dasar. Pendekatan transformatif dipilih karena memungkinkan adanya perubahan dari dalam diri peneliti setelah melakukan penelitian ini, dimulai dengan merefleksi diri sendiri. Peneliti menggunakan multiparadigma yang mencakup paradigma interpretasi, paradigma kritis, dan paradigma postmodern. Metode ini memberikan kebebasan bagi peneliti untuk melakukan eksplorasi mendalam terhadap kandungan Surah Al-Isra, baik dari sisi konsep matematika yang bersifat eksplisit maupun implisit, sekaligus memahami ayat-ayat yang mengandung nilai moral yang dapat dijadikan konteks pembelajaran.
Hasil eksplorasi menunjukkan bahwa Surah Al-Isra mengandung enam konsep matematika yang dapat diintegrasikan dalam pembelajaran di sekolah dasar. Ayat pertama tentang Isra Mi'raj mengandung konsep jarak, waktu, dan kecepatan yang dapat diajarkan di kelas satu, tiga, dan lima. Ayat 12 tentang perhitungan waktu siang dan malam cocok untuk kelas dua dan tiga. Ayat 35 menjelaskan tentang menimbang dengan neraca yang benar, relevan untuk mengajarkan satuan berat di kelas satu hingga empat. Ayat 44 dan 101 menyebutkan angka tujuh dan sembilan yang sesuai dengan konsep bilangan kardinal untuk kelas satu. Sementara ayat 75 tentang hukuman berlipat ganda dapat digunakan untuk mengajarkan konsep kelipatan dan faktor di kelas empat. Konsep-konsep ini menunjukkan bahwa Al-Qur'an tidak hanya kitab spiritual, tetapi juga menyimpan kekayaan ilmu pengetahuan yang luar biasa.
Yang lebih menarik lagi, Surah Al-Isra juga mengandung sembilan ayat yang sarat nilai moral dan dapat dijadikan konteks soal pemecahan masalah matematika. Ayat-ayat tersebut mencakup anjuran berbuat baik dan larangan berbuat jahat, adab terhadap orangtua, larangan boros, larangan mendekati zina, anjuran amanah dan menepati janji, larangan berbohong, larangan bersikap sombong, anjuran berkata baik, dan perintah melaksanakan sholat subuh tepat waktu. Setiap nilai moral ini kemudian ditransformasi menjadi konteks dalam soal cerita matematika yang tidak hanya melatih kemampuan berhitung siswa, tetapi juga menanamkan karakter mulia. Misalnya, konsep penjumlahan dan pengurangan diajarkan melalui cerita tentang anak yang bersedekah kepada pengemis dan kemudian mendapat kebaikan kembali dari ibunya, mengajarkan bahwa kebaikan akan kembali kepada diri sendiri.
Implementasi soal-soal pemecahan masalah dengan konteks nilai moral ini mendapat respons positif dari para guru yang diwawancarai. Mereka mengakui bahwa pendekatan ini merupakan hal baru yang belum pernah mereka temui atau pikirkan sebelumnya. Para guru melihat bahwa soal-soal semacam ini sangat baik untuk diterapkan, terutama dalam konteks implementasi Kurikulum 2013 yang menekankan pendidikan karakter. Dengan pendekatan ini, penanaman nilai moral tidak lagi hanya menjadi tanggung jawab mata pelajaran Agama dan PPKn, tetapi juga dapat diintegrasikan dalam pembelajaran matematika. Siswa tidak hanya belajar menghitung dan menyelesaikan soal, tetapi juga memahami hikmah dan nilai-nilai kehidupan yang terkandung di dalamnya, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan holistik.
Penelitian ini membuka peluang besar bagi transformasi pembelajaran matematika di sekolah dasar, khususnya di lembaga pendidikan Islam. Para guru didorong untuk tidak hanya mengajarkan matematika sebagai keterampilan teknis semata, tetapi juga sebagai media penanaman nilai moral dan peningkatan keimanan siswa. Dengan mengintegrasikan ayat-ayat Al-Qur'an dalam pembelajaran matematika, siswa mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif bahwa ilmu pengetahuan dan agama bukanlah dua hal yang terpisah, melainkan saling melengkapi. Penelitian lanjutan dapat dilakukan dengan menguji cobakan soal-soal yang telah dibuat untuk melihat dampaknya terhadap pemahaman nilai moral siswa, mengembangkan lebih banyak soal dengan konteks yang bervariasi, atau mengeksplorasi konsep matematika dalam surah-surah Al-Qur'an lainnya untuk memperkaya khazanah pembelajaran matematika yang bernilai Islami.
Khoirida, U., & Mariana, N. (2018). Transformasi Konteks Pemecahan Masalah Matematika Yang Mengandung Nilai-Nilai Islami Dalam Alquran Surah Al-Isra. Jurnal Penelitian Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 6(8), 1272-82.