Terjemah Buku Cerita Anak Perluas Akses Membaca di Sekolah Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya – Upaya menerjemah buku cerita anak semakin digencarkan sebagai bagian dari strategi nasional memperkuat literasi di tingkat sekolah dasar. Buku terjemahan menjadi sarana efektif untuk mengenalkan siswa pada cerita dari berbagai negara dan latar budaya, sehingga mereka dapat memahami kisah internasional dengan bahasa yang lebih mudah dipahami. Langkah ini sangat relevan dengan kebutuhan pembelajaran modern yang menempatkan literasi global sebagai kompetensi inti.
Pemerintah, organisasi literasi, dan berbagai komunitas baca kini aktif berkolaborasi dalam menghadirkan buku-buku terjemahan yang ramah anak. Dengan penerjemahan yang baik dan bahasa yang disederhanakan, siswa SD dapat menikmati cerita internasional tanpa harus menguasai bahasa aslinya. Dampaknya tidak hanya pada peningkatan minat baca, tetapi juga pada perluasan wawasan anak terhadap dunia luar yang sebelumnya jarang diakses melalui buku.
Program terjemah ini juga memiliki peran penting dalam mendukung pencapaian SDG 4, khususnya dalam aspek pemerataan akses terhadap bahan bacaan berkualitas. Di banyak daerah, sekolah dan perpustakaan masih terbatas koleksi bukunya. Hadirnya buku terjemahan membantu menjembatani kesenjangan tersebut, memberikan kesempatan yang lebih merata bagi seluruh siswa untuk membaca buku yang bernilai edukatif tinggi.
Selain membuka akses literasi, buku terjemahan turut mengajarkan siswa mengenai keberagaman budaya. Melalui cerita asing, anak-anak dapat memahami cara hidup, nilai moral, tradisi, serta pandangan masyarakat di negara lain. Pembelajaran lintas budaya seperti ini mampu menumbuhkan sikap toleransi, empati, dan penghargaan terhadap perbedaan sejak usia dini, sesuai dengan tujuan pendidikan karakter.
Namun demikian, kualitas terjemahan menjadi faktor krusial yang harus diperhatikan. Terjemahan yang terlalu rumit atau tidak akurat dapat menghambat pemahaman siswa. Karena itu, guru dan sekolah perlu melakukan seleksi terhadap buku terjemahan agar bahasanya sesuai tingkat perkembangan anak, tidak mengandung kesalahan makna, dan tetap mempertahankan nilai-nilai cerita aslinya.
Peran guru dalam mendampingi siswa ketika membaca buku terjemahan juga penting. Guru dapat membantu menjelaskan istilah yang mungkin belum familiar, membandingkan versi cerita asli dan terjemahan, serta mengajak siswa berdiskusi mengenai pesan moral yang terkandung di dalamnya. Pendampingan ini membuat proses membaca lebih bermakna dan mendalam.
Dengan dukungan penerjemahan yang baik, ketersediaan buku yang memadai, serta pendampingan guru yang tepat, program terjemah dapat menjadi fondasi kuat dalam memperkuat budaya literasi nasional. Langkah ini tidak hanya memperluas akses membaca, tetapi juga membuka jendela dunia bagi anak-anak Indonesia untuk mengenal keberagaman budaya global melalui cerita.
# # #
Penulis: Nabila Mutiara Febriyanti
Sumber : https://bpmpbanten.kemendikdasmen.go.id/pesta-literasi-indonesia-2025/