TKA 2026: Antara Ambisi Literasi Global dan Kesiapan Mental Anak
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Kebijakan TKA 2026 merupakan langkah ambisius pemerintah untuk menaikkan peringkat literasi dan numerasi nasional dalam skala internasional. Fokus pada kemampuan analisis data dan pemecahan masalah diharapkan dapat menghasilkan lulusan SD yang lebih siap menghadapi tantangan zaman yang kian kompleks. Namun, ambisi besar ini seringkali berbenturan dengan kenyataan pahit mengenai kesiapan mental anak-anak yang dipaksa untuk dewasa secara akademik sebelum waktunya.
Para ahli perkembangan
anak menyoroti bahwa tekanan untuk mencapai standar mutu global tidak boleh
mengabaikan kebutuhan dasar anak akan waktu bermain dan sosialisasi.
Implementasi TKA yang terlalu kaku berisiko memicu stres kronis yang dapat
menghambat pertumbuhan otak dan minat belajar jangka panjang. Standar mutu yang
terlalu tinggi tanpa sistem pendukung emosional yang kuat hanya akan melahirkan
generasi yang pintar secara teknis namun rapuh secara mental.
Di sisi lain, sekolah
kini terjebak dalam dilema antara menuntaskan materi kurikulum yang luas atau
memfokuskan seluruh energi pada persiapan TKA. Akibatnya, banyak kegiatan
ekstrakurikuler dan pengembangan bakat non-akademik yang dikesampingkan,
padahal kecerdasan anak tidak hanya terbatas pada angka kognitif. Hal ini
menguatkan persepsi bahwa TKA 2026 adalah beban baru yang menyempitkan makna
pendidikan menjadi sekadar angka-angka statistik.
Evaluasi terhadap
pelaksanaan TKA harus melibatkan perspektif psikologi secara mendalam agar
ujian ini tidak menjadi trauma nasional bagi siswa tingkat dasar. Diperlukan
desain tes yang lebih ramah anak, di mana proses pengerjaannya tidak dirasakan
sebagai ancaman, melainkan sebagai tantangan yang menyenangkan. Pendampingan
dari guru bimbingan konseling di sekolah sangat vital untuk membantu siswa
mengelola kecemasan mereka selama periode ujian berlangsung.
TKA 2026 harus
membuktikan bahwa ia adalah alat untuk memberdayakan, bukan untuk membebani
secara berlebihan. Standardisasi mutu global adalah target yang baik, namun
perjalanannya harus dilakukan dengan langkah yang sesuai dengan kecepatan
perkembangan anak. Hanya dengan menjaga keseimbangan antara tantangan akademik
dan kesejahteraan mental, pendidikan Indonesia akan mampu mencetak generasi
emas yang sesungguhnya.
###
Penulis: Nur Santika
Rokhmah